Selasa, 30 April 2013

Yuk Kenali Budidaya Tanaman Porang dan Nilai Ekonomisnya Bagi Petani di Hutan Blora


Tanaman porang (amorphopallus oncophillus) merupakan tanaman yang hidup di hutan tropis. Tanaman yang bisa juga ditanam di dataran rendah tersebut mudah hidup di antara tegakan pohon hutan seperti misalnya Jati dan Pohon Sono. Porang di daerah Jawa dikenal dengan nama iles-iles atau suweg. Termasuk tumbuhan semak (herba) yang memiliki tinggi 100 – 150 cm dengan umbi yang berada di dalam tanah.

Batang tegak, lunak, batang halus berwarna hijau atau hitam belang-belang (totol-totol) putih. Batang tunggal memecah menjadi tiga batang sekunder dan akan memecah lagi sekaligus menjadi tangkai daun. Pada setiap pertemuan batang akan tumbuh bintil/ katak berwarna coklat kehitam-hitaman sebagai alat perkembangbiakan tanaman Porang. Tinggi tanaman dapat mencapai 1,5 meter sangat tergantung umur dan kesuburan tanah. Umbi inilah yang akan dipungut hasilnya karena memiliki zat glucomanan.

Tanaman tersebut kini mempunyai prospek yang menjanjikan karena memiliki nilai ekonomi yang bisa dibudidayakan. Selain itu, Porang banyak sekali terutama untuk industri dan kesehatan, hal ini terutama karena kandungan zat Glucomanan yang ada di dalamnya. Beberapa manfaat umbi porang yang lainnya antara lain:
  1. Bahan lem
  2. Juli
  3. Mie
  4. Tahu
  5. Felem
  6. Perekat tablet
  7. Pembungkus kapsul
  8. Penguat kertas 

Karena banyaknya manfaat yang dikandung, kini Perhutani selaku pengelola hutan bekerjasama dengan para petani desa di sekitar hutan untuk mengembangkan sela-sela tegakan pohon jati yang ditujukan untuk kebon porang.

Di Jawa pengembangan porang telah dimulai di Jawa Timur seperti di Madiun, Nganjuk, Jember, Kediri Ngawi dll. Melihat potensi luasnya hutan jati di Kabupaten Blora membuat Menteri BUMN Dahlan Iskan tertarik mengajak Perhutani memperluas lahan pengembangbiakan porang di Blora. Hal ini disambut baik Perhutani dan warga petani di Blora.

Untuk menindaklanjuti ide tersebut, Perhutani menyediakan lahan 1200 hektar di Blora. Yang terbagi dalam 4 wilayah KPH yakni di KPH Randublatung sudah siap 520 hektar, KPH Cepu 480 hektar, KPH Blora 150 hektar, dan KPH Mantingan 50 hektar. Nantinya tahun depan Perhutani juga akan membangun Pabrik Pengolahan Porang menjadi tepung porang di Blora

Pabrik tersebut nantinya bisa menampung 30 ribu ton porang setiap tahunnya. Dengan adanya pabrik di Blora nantinya bisa mengangkat kehidupan masyarakat, termasuk petani yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).


Menurutnya, porang baru akan bisa dipanen dua tahun lagi, sehingga tahun depan pabrik didirikan dan saat panen hasil tanaman porang dari petani sudah bisa dimanfaatkan. Selama menunggu panen, petani akan dipekerjakan menanam porang dengan dibayar setiap bulannya. Petani tidak usah khawatir untuk pemasaran, sebab akan ditampung Perhutani semua. Kata Dirut Perhutani Bambang Sukmananto.

Sabtu kemarin penanaman porang secara massal diresmikan Menteri BUMN Dahlan Iskan di hutan mrico kecut BKPH Cabak Kec.Jiken yang diikuti seribu lebih petani dari puluhan LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) dan dilanjutkan secara mandiri oleh petani lainnya secara berkesinambungan bersama Perhutani.

Pangsa pasar porang terbesar adalah Jepang. Umbi inilah yang diolah menjadi tepung, kemudian dijadikan penganan khas Jepang seperti konyaku dan shirataki. Konyaku adalah sejenis jelly yang kaya akan serat. Sedangkan shirataki adalah mi tipis transparan, yang dibuat dari konyaku. Meski menjadi penganan khas Jepang, bahan baku berupa umbi porang didatangkan dari Indonesia.

Kini, permintaan terhadap umbi porang terus meningkat. Tak heran jika muncul beberapa eksportir baru. Mereka tidak menetapkan persyaratan terlalu ketat, kecuali harus kering dan bersih dari cendawan (jamur).

Perkembangbiakan Porang
Perkembangbiakan tanaman Porang dapat dilakukan dengan cara generatif maupun vegetatif. Secara umum perkembangbiakan tanaman Porang dapat dilakukan melalui berbagai cara yaitu antara lain:

1. Perkembangbiakan dengan Katak
Dalam 1 kg Katak berisi sekitar 100 butir katak. Katak ini pada masa panen dikumpulkan kemudian disimpan sehingga bila memasuki musim hujan bisa langsung ditanam pada lahan yang telah disiapkan. Pada setiap pertemuan batang porang akan tumbuh bintil berwarna coklat kehitam-hitaman sebagai alat perkembangbiakan tanaman porang, inilah yang disebut katak.

2. Perkembangbiakan dengan Biji/Buah
Tanaman Porang pada setiap kurun waktu empat tahun akan menghasilkan bunga yang kemudian menjadi buah atau biji. Dalam satu tongkol buah bisa menghasilkan biji sampai 250 butir yang dapat digunakan sebagai bibit Porang dengan cara disemaikan terlebih dahulu.

3. Perkembangbiakan dengan Umbi
  • Dengan umbi yang kecil, ini diperoleh dari hasil pengurangan tanaman yang sudah terlalu rapat sehingga perlu untuk dikurangi. Hasil pengurangan ini dikumpulkan yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai bibit.
  • Dengan umbi yang besar, ini dilakukan dengan cara umbi yang besar tersebut dipecah-pecah  sesuai dengan selera selanjutnya ditanam pada lahan yang telah disiapkan.
Syarat Tumbuh Porang
Tanaman Porang pada umumnya dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja, namun demikian agar usaha budidaya tanaman Porang dapat berhasil dengan baik perlu diketahui hal-hal yang merupakan syarat-syarat tumbuh tanaman Porang, terutama yang menyangkut iklim dan keadaan tanahnya. Beberapa syarat yang diperlukan tersebut antara lain:

1. Keadaan Iklim
Tanaman Porang mempunyai sifat khusus yaitu mempunyai toleransi yang sangat tinggi terhadap naungan atau tempat teduh (tahan tempat teduh). Tanaman Porang membutuhkan cahaya maksimum hanya sampai 40%. Tanaman Porang dapat tumbuh pada ketinggian 0 – 700 M dpl. Namun yang paling bagus pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 – 600 M dpl.

2. Keadaan Tanah
Untuk hasil yang baik, tanaman Porang menghendaki tanah yang gembur/ subur serta tidak becek (tergenang air). Derajat keasaman tanah yang ideal adalah antara PH 6 – 7 serta pada kondisi jenis tanah apa saja.

3. Kondisi Lingkungan
Naungan yang ideal untuk tanaman Porang adalah jenis Jati, Mahoni Sono, dan lain-lain, yang pokok ada naungan serta terhindar dari kebakaran. Tingkat kerapatan naungan minimal 40% sehingga semakin rapat semakin baik.
Untuk masa panen, tanaman porang dapat dilakukan setelah berumur 3 tahun (3 kali pertumbuhan). Dan untuk harga saat ini sekitar Rp. 800,-/kg dalam keadaan basah. Sementara apabila dijual dalam bentuk irisan keripik yang kering dapat dijual dengan harga Rp.9.000,-/Kg. Apabila kita mampu menjualnya langsung ke pihak investor dari pihak asing kita akan dihargai sekitar USD 18/Kg. Dalam setiap pohon dapat memanen hasil sebanyak 2 Kg umbi, dan dalam setiap hektarnya dapat diperoleh 12 ton atau sekitar 1,5 ton kering.

Itulah tadi sedikit tentang pembudidayaan porang, silahkan mencoba semoga sukses. (rs-infoBlora)

Surat Suara Pilgub Jateng Datang di KPU Blora, Verifikasi Berkas Caleg Jalan Terus

BLORA, suaramerdeka.com - Tahapan Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 dan Pemilu Gubernur (Pilgub) Jateng bisa dilakukan beriringan. Makin dekatnya pelaksanaan Pilgub Jateng, 26 Mei, tidak lantas membuat KPU Blora mengesampingkan tugas lain.

Verifikasi bakal calon legislatif (caleg) untuk Pemilu 2014 tetap dilakukan. ‘’Verifikasi berkas bakal caleg tetap jalan terus. Hingga saat ini sudah mencapai sekitar 70 persen,’’ kata Ketua KPU, Moesafa, Selasa (30/4).

Bahkan Senin lalu verifikasi yang dilaksanakan di aula sekretariat KPU  tersebut mendapat pengawasan langsung dari Panwas Pilgub Jateng Blora. Menurut rencana verifikasi berkas itu akan berakhir 6 Mei. Di saat hampir bersamaan secara bertahap barang-barang kebutuhan atau logistik Pilgub mulai tiba di Blora. Logistik yang paling awal diterima KPU Blora adalah surat suara. ‘’Surat suara pilgub tiba di Blora Senin (29/4) sore. Surat suara saat ini kami simpan di gudang,’’ tandas, Moesafa.

Dia mengungkapkan jumlah surat suara yang diterima sesuai dengan kebutuhan. Yakni sesuai dengan jumlah pemilih ditambah 2,5 persen surat suara cadangan. Berdasarkan data yang dihimpun, daftar pemilih tetap (DPT) Pilgub Jateng di Blora sebanyak 704.896 orang.

Menurut Moesafa selain surat suara, logistik pilgub lainnya yang sudah berada di Blora adalah tinta. Dia menyatakan beberapa hari ke depan akan ada lagi logistik lainnya yang tiba di Blora. Diantaranya bantalan coblosan, paku dan formulir.

‘’Untuk bilik suara dan kotak suara memanfaatkan bilik dan kotak suara yang pernah dipakai di pemilu sebelumnya. Kondisinya masih bagus dan selama ini tersimpan rapi di gudang,’’ tandas Arifin, anggota KPU Blora yang membidangi logistik Pilgub Jateng.
( Abdul Muiz / CN19 / JBSM ) - (Suara Merdeka-infoBlora)

Pasokan Premium di SPBU Blora Cepat Habis, Konsumen Beralih ke Pertamax

BLORA - Sulitnya mencari BBM jenis Premium di sejumlah Satuan Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Blora, ­mengakibatkan masyarakat mengeluh. Apalagi selama ini masyarakat mengandalkan Premium untuk aktivitas sehari-hari.
Meski premium tidak ada di SPBU, ternyata masih banyak masyarakat membeli dengan jerigen yang tetap antre.

Sementara para pengendara sepeda motor juga beralih membeli BBM jenis Pertamax dengan harga Rp 10.300, padahal sebe­lumnya pembeli Pertamax relatif sedikit. Namun sejak kemarin, sepeda motor mulai antre untuk mendapatkan Pertamax.

 "Mau gimana lagi, sudah sampai SPBU bensin habis, terpaksa isi Pertamax saja. Yang penting motor dapat berjalan," kata Andri warga Karangjati Blora kepada Suara Mer­deka saat antre di SPBU Karangjati Blora, Selasa (30/4).

Andri mengakui sejak Minggu memang premium sulit didapatkan, kalau pun ada itu di pedagang eceran.
Bahkan dia sempat membeli di pedagang eceran dengan harga Rp 8.000 perliter. Namun dia heran, mengapa di pedagang eceran malah banyak dijual, sementara di SPBU sudah habis. "Harusnya pembeli jerigen jangan dilayani dulu," keluhnya.

Beri Tanda
Di SPBU Karangjati, petugas memberikan tanda Premium menunggu kiriman, adapun untuk Pertamax dipasang harga perliternya dengan kertas Karton. Sejak Selasa (30/4) pagi terlihat antrean cukup panjang di bagian Pertamax, khusunya sepeda motor, sedangkan mobil hanya beberapa. Sementara di bagian Premium tetap saja ada yang antre, meski belum jelas datangnya.

Kalau di SPBU Karangjati Premium habis, di SPBU Ngawen terjadi antrian panjang. Sedangkan di SPBU Bangkle justru kebalikannya, jenis Pre­mium ada dan diserbu kendaraan, baik roda dua dan empat, sehingga dalam sekejap langsung habis.

Hal yang sama terjadi di SPBU Tamanrejo, Kecamatan Tun­jungan, SPBU Medang dan SPBU Tempellemahbang, Kecamatan Jepon. Antrean terlihat cukup banyak, selain di bagian Premium juga ba­gian Pertamax dipenuhi ken­daraan. "Sejak kemarin banyak yang mengisi pertamax, karena bensin habis," kata Gunawan petugas SPBU Tempellemahbang. (gie-32,88) - (Suara Merdeka - infoBlora)

Pernikahan Usia Dini "Nikah Muda" di Blora Masuk Kategori Tinggi

BLORA-Jumlah warga Kabupaten Blora yang menikah di usia dini relatif tinggi. Berdasar data di baguan Urais Kementrian Agama sejak bulan Januari hingga April tahun ini tercatat sebanyak 31 putra dan 54 putri.
Sedang angka pernikahan usia dini sepanjang tahun 2011 lalu 27 orang putra dan 61 orang putri.
“Anak yang menikah diusia dini tahun ini tergolong paling tinggi. Faktornya macam-macam,” jelas Kepala Kementrian Agama Tri Hidayat melalui Kasi Urais Masfuin di ruang kerjanya,.

Masfuin menjelaskan kategori usia dini dalam pernikahan ini merujuk pada Undang-Undang Perkawinan nomor 1 tahun 1974. Yang mana dalam peraturan tersebut untuk usia pernikahan usia dini bagi perempuan 16 tahun dan laki-laki 19 tahun.
“Meningginya angka pernikahan usia dini ini mungkin lantaran tradisi saja. Karena kalau orang Jawa itu tahun ini merupakan tahun yang baik untuk menikah. Namun begitu hal ini tidak bisa dibenarkan,” jelasnya.
Dia menambahkan terkait angka pernikahan usia normal sepanjang tahun 2012 lalu sebanyak 7083 pasangan. Angka tersebut berasal dari Kantor Urusan Agama (KUA) di 16 kecamatan se Kabupaten Blora.
”Untuk tahun ini angka pernikahan sudah mencapai 2615,” jelasnya.
Menurut dia, untuk angka telak cerai sepanjang tahun 2012 lalu sebanyak 841 kasus. Sedangkan yang talak 223 kasus.”Untuk talak tahun ini 154 orang.
Talak itu yang mengajukan perceraian pihak laki-laki dan cerai gugatan dari pihak perempuan,” jelasnya.(Endah/YD)-(infoBlora)

Pemkab Blora Diminta Tegas Tolak Divestasi Saham PI Blok Cepu


BLORA,  Pemkab Blora diminta mengeluarkan keputusan tegas untuk menolak permintaan divestasi (pembagian) saham PT Blora Patragas Hulu (BPH) yang diajukan PT Anugrah Bangun Sarana Jaya (ABSJ) Surabaya. Sebab dengan adanya keputusan resmi tersebut tidak akan lagi muncul wacana ataupun polemik divestasi saham di kalangan masyarakat Blora.

"Harus ada ketegasan untuk mengakhiri polemik permintaan divestasi saham PT BPH. Ketegasan itu melalui keputusan resmi Pemkab Blora," ujar Koordinator LSM Aliansi Rakyat Anti Korupsi (ARAK), Kentut Prasetya, Selasa (30/4).

Dia menyatakan sejak awal pihaknya menolak rencana divestasi saham PT BPH. Sebab menurutnya divestasi saham penyertaan modal participating interst (PI) Blok Cepu tersebut akan merugikan Blora.
Berdasarkan informasi yang dihimpun suaramerdeka.com, wacana divestasi saham mengemuka akhir tahun 2009 setelah PT ABSJ Surabaya, selaku penyandang dana keikutsertaan Pemkab Blora dalam penyertaan modal PI Blok Cepu, mengirimkan surat kepada PT BPH agar badan usaha milik daerah (BUMD) Blora itu mendivestasikan saham sebesar 49 persen.

Namun, permintaan divestasi saham tersebut pernah ditolak Pemkab Blora. Hanya saja PT ABSJ kembali mengajukan permintaan serupa, sehingga wacana divestasi saham pun kembali mengemuka belakangan ini.

Agar wacana tersebut tidak lagi menjadi polemik, Seno Margo Utomo, salah seorang anggota DPRD Blora yang juga sekretaris Tim Transparansi Pendapatan Minyak dan Gas (Migas) Blora merencanakan menggelar diskusi. "Semua pihak yang terkait hal ini akan kami undang, termasuk bupati dan Direktur Utama PT ABSJ, Ishadi,’’ ungkapnya.

Dia menilai selama ini wacana divestasi saham itu sudah melenceng dari esensi bisnis to bisnis. Bahkan dibawa-bawa ke ranah politik.  Prasangka buruk pun mengiringi wacana tersebut.

Sementara itu meski belum ada keputusan resmi namun Bupati Djoko Nugroho menyatakan divestasi saham tidak akan menguntungkan Blora. Dia pun meminta semua pihak mendukung pemkab dalam upaya mendapatkan bagi hasil dari keikutsertaan penyertaan modal PI Blok Cepu.
( Abdul Muiz / CN38 / JBSM )- (Suara Merdeka - infoBlora)

Daftar Pemenang Lomba Karya Tulis PATABA Khoul Pramoedya ke 7


BLORA - Harits Luqmanul Hakim, siswa SMP Unggulan Al-Hakim Bandung, dengan karyanya ”Ayahku Seorang Jenderal Besar” keluar sebagai juara I lomba penulisan fiksi kategori pelajar SMP dan SMA tingkat nasional yang diselenggaraan Perpustakaan Pataba Blora.

Ia berhasil menyisihkan ratusan karya pelajar dari berbagai daerah. ”Sejak dibuka pada 6 Februari dan ditutup 20 April, panitia menerima 415 karya para pelajar dari berbagai kota di Indonesia,” kata Soesilo Toer, pengelola Perpustakaan Pataba.

Sementara itu, juara II diraih Mutoharoh (MA Subhanah Subah, Batang) dengan tulisan bertitel ”Ibu”, disusul Dharma Kurnia Septaloka (SMA 13 Jakarta) sebagai juara III dengan karya ”Izinkan Aku Mencintaimu”.

Wika G Wulandari (SMA Averos Sorong) menjadi juara harapan I dengan karya berjudul ”Lembayung Kebebasan” dan juara harapan II K Sudono (SMP 25 Surakarta) dengan karya ”Keunikan Bunga Matahariku”. Informasi selengkapnya bisa menghubungi Hermawan Widodo (081914020214).
(H61-37) (Suara Merdeka/infoBlora)

35 Dusun Belum Ada Jaringan Listrik, Dinas ESDM Blora Ajukan Bantuan ke Pusat

BLORA - Sebanyak 35 dusun di Blora hingga kini belum ada jaringan listrik. Kalau pun ada aliran listrik, itu berasal dari jaringan listrik di dusun lain yang terdekat. Dibutuhkan dana tidak sedikit, bahkan mencapai miliaran rupiah untuk membangun jaringan listrik di semua pedukuhan tersebut.

Karena keterbatasan dana, Pemkab Blora meminta bantuan ke pemerintah pusat agar dibangun jaringan listrik di dusun-dusun itu. ''Kami sampaikan ke pemerintah pusat. Tentu kami berharap akan ada bantuan,'' ujar Kepala Dinas Energi Sumberdaya Mineral (ESDM) Blora H Setyo Edy, kemarin.

Dia mencontohkan, salah satu bantuan pemerintah pusat tahun lalu yang pernah diberikan ke Blora terkait listrik ini, adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Dusun Nglebak, Desa Nglebak, Kecamatan Kradenan. PLTS di Nglebak itu, sebenarnya pengajuan bantuan di tahun 2011, namun baru direalisasikan tahun 2012 dan dioperasionalkan tahun ini.

Menurut Setyo Edy, tahun 2013 belum ada konfirmasi lebih lanjut tentang ada tidaknya bantuan serupa dari pemerintah pusat ke Blora. ''Kemungkinan pada Bulan Juli akan ada informasi atau jawaban dari pengajuan bantuan yang kami sampaikan ke pusat,'' katanya.

Lebih lanjut Setyo Edy menjelaskan, pihaknya mengupayakan agar seluruh dusun dan rumah warga di Blora diterangi listrik. Hanya saja untuk membangun jaringan listrik hingga ke pelosok desa terpencil dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.

''Anggaran dari APBD kabupaten tidak bisa mengatasi. Bahkan alokasi anggaran untuk Dinas ESDM jumlahnya lebih kecil dibanding dana untuk pembinaan olahraga dan bantuan seni budaya,'' tandasnya.

Berdasarkan data yang dihimpun dari 16 kecamatan di Blora, hanya Kecamatan Cepu yang semua dukuhnya sudah teraliri jaringan listrik. Kecamatan yang paling banyak memiliki dukuh yang belum berlistrik, adalah Kradenan, sekitar tujuh dukuh. (H18-40,88) - (Suara Merdeka - infoBlora)

Warga di Perbatasan Provinsi Jateng - Jatim Dapat Bantuan Listrik Tenaga Surya


BLORA,  Sebanyak 100 kepala keluarga (KK) di Dusun Nglebak, Desa Nglebak, Kecamatan Kradenan, Blora, kini tidak gelap-gelapan lagi. Itu terjadi seiring dioperasionalkannya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di dusun yang berbatasan dengan Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, tersebut.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Blora, Setyo Edy, mengemukakan PLTS tersebut merupakan bantuan dari pemerintah pusat. "Kami ajukan proposal bantuan ke pusat pada 2011. Setelah disetujui PLTS itu dibangun 2012 dan tahun ini sudah berfungsi. Bantuan pusat ini nilainya hampir Rp 2 miliar,"  ujarnya.

Dusun Nglebak adalah salah satu dari sekitar 40-an dusun di 15 kecamatan di Kabupaten Blora yang warganya sebelumnya tidak menikmati aliran listrik. Menurutnya PLTS di Nglebak tersebut bisa menyalurkan listrik untuk 100 KK. Selain itu, juga daya yang dihasilkan mampu menyinari jalan melalui lampu penerangan jalan di 74 titik. Sehingga, dusun yang semula gelap gulita tanpa listrik itu, mulai saat ini terang benderang.

Meski begitu, kata Setyo Edy, masih ada sekitar 31 KK lagi di Nglebak yang belum kebagian aliran listrik PLTS. Sebab, kapasitas listrik yang dihasilkan dari PLTS tersebut hanya untuk 100 KK yang lokasinya tidak jauh dari PLTS. Karena itu ESDM Blora mengajukan bantuan lagi. "Kami sudah ajukan bantuan ke pusat untuk kepala keluarga yang belum mendapat bagian aliran listrik," katanya.
( Abdul Muiz / CN32 / JBSM )- (Suara Merdeka)

Senam Pagi Akan Rutin Dilaksanakan Bersama

Senam Pagi Akan Rutin Dilaksanakan Bersama

Jika dalam setiap hari, senam pagi dilakukan dimasing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Jumat (27/4) kemarin, SKPD yang berlokasi dekat dengan Gor, senam pagi dilakukan bersama-sama.

Senam yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan bagi pegawai yang bekerja di Pemerintah Kabupaten Blora, namun berbeda pada jum’at-jum’at sebelumnya, yakni berbeda dalam hal peserta yang mengikuti senam karena pesertanya tidak hanya dari satu SKPD namun beberapa SKPD.

“Senam pagi bersama akan rutin digelar setiap minggu ke-dua dan ke-tiga,” kata Kepala Bidang Pemuda dan Olah Raga, Suparno.

Suparno menambahkan, tidak hanya senam pagi, untuk menjalin kebersamaan antar pegawai. Setiap jumat pagi jika olah raga dilaksanaan dimasing-masing SKPD, mulai hari
akan dilakukan bersama-sama.

Dijelaskannya, untuk minggu pertama dengan melakukan jalan santai sedangkan jika minggu ke-empat akan dilakukan dengan sepeda santai.

SKPD yang mengikuti senam pagi adalah Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga, Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komuniksai dan Informatika, Dinas Kehutanan, Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan Keluarga Berencana, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial dan Inspektorat. (DPPKKI Kab. Blora)

Hari Buruh "May Day", 1 Mei Akan Jadi Libur Nasional Mulai Tahun Depan


JAKARTA,  Pemerintah akan menjadikan Hari Buruh Internasional yang diperingati setiap 1 Mei sebagai hari libur nasional. Menurut rencana, hal itu akan dimulai pada 2014. Rencana tersebut disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika bertemu para pimpinan konfederasi dan serikat pekerja di Istana Negara, Jakarta, Senin (29/4/2013).

Presiden didampingi Wakil Presiden Boediono dan para menteri. Organisasi pekerja yang hadir, di antaranya, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Konfederasi Aliansi Serikat Buruh Indonesia, Serikat Pekerja BUMN, dan Konfederasi Majelis Pekerja Buruh Indonesia. "Beliau akan berikan kado istimewa yang sudah kami tunggu-tunggu lama sekali, akan jadikan 1 Mei sebagai hari libur nasional pada tahun-tahun berikutnya," kata Presiden KSPI Said Iqbal.

Said mengatakan, Presiden menyebut akan mengumumkan "kado" tersebut dalam pertemuan dengan pimpinan dan buruh PT Maspion serta PT Unilever di Jawa Timur, Rabu (1/5/2013). Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha ketika dikonfirmasi enggan berkomentar banyak. Ia meminta para buruh menunggu pernyataan Presiden. "Biar surprise saat May Day," katanya.

Said menambahkan, jika memang May Bay benar dijadikan hari libur nasional, pihaknya tetap akan menggelar unjuk rasa besar-besaran pada 1 Mei untuk menuntut hak buruh seperti yang dilakukan selama ini. Pada 1 Mei, ia menyebut akan ada 600.000 buruh yang berunjuk rasa di seluruh Indonesia.
"Ada 150.000 buruh asal Jabodetabek yang demo di Jakarta. Mereka akan demo di depan Istana. Sebagian ke DPR dan kementerian terkait," kata Said sambil memastikan unjuk rasa akan berjalan tertib.
(Heru Margianto-Kompas)-(infoBlora)

Kenang 7 Tahun Meninggalnya Sastrawan Besar Tokoh Pramoedya Ananta Toer dari Blora

Kenangan 7 Tahun Meninggalnya Pramoedya Ananta Toer (6 Pebruari 1925 - 30 April 2006)

Setiap tanggal 30 April, kita mengenang suatu peristiwa penting dalam dunia perbukuan di Indonesia khususnya, dan di Indonesia pada umumnya: meninggalnya Pramoedya Ananta Toer pada tanggal 30 April 2006. Ia adalah sastrawan yang berkali-kali dinominasikan mendapat penghargaan Nobel Sastra. Peristiwa ini menandakan ada upaya dari masyarakat untuk tidak melupakan sosok penulis yang selama hidupnya selalu dipinggirkan oleh kekuasaan.
Apa yang membuat masyarakat tidak bisa melupakan Pramoedya Ananta Toer? Karena ia adalah bukti hidup “saat kata menjadi senjata”. Pada tahun 1988, Pramoedya mengatakan, “Saya makin bingung dengan Indonesia ini. Takut dengan pengarang dan dipenjarakannya saya selama 14 tahun tanpa pengadilan. Padahal di belakang saya selain sepi sunyi tak ada deretan tentara, persenjataan canggih, atau pembunuh-pembunuh bayaran. Heran saya.”
Keheranan Pramoedya ini sebenarnya tidak cukup kuat argumennya karena jelas betul riwayat politik dan penulisan Pramoedya memang tidak bisa dikesampingkan begitu saja oleh rezim Orde Baru. Apalagi Pramoedya memegang ingatan sejarah akan rezim yang baru saja ditumbangkan oleh Orde Baru. Ia adalah citra manusia Indonesia yang mengalami penjajahan demi penjajahan, demokrasi demi demokrasi, gerakan demi gerakan. Tentara perlu “melumpuhkan” dirinya dan membuat ia “dilupakan”, tetapi Pramoedya Ananta Toer ternyata tidak bisa dilumpuhkan dan tidak bisa dilupakan. Meski tentara memenjarakannya selama 14 tahun dimana 10 tahun ia berada di pulau Buru, lalu karya-karyanya dibakar. Tetapi generasi muda tetap menganggap penting pikiran-pikiran yang ditinggalkan Pramoedya yang telah ia tuliskan di buku-bukunya dan tindakan-tindakannya.

Menulis untuk Hidup
Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, 6 Februari 1925, sebagai anak sulung pasangan Mastoer dan Oemi Saidah. Mastoer berasal dari kalangan keluarga yang dekat dengan agama Islam. Ibunya anak penghulu Rembang. Keduanya anak orang terdidik. Mastoer seorang guru sekaligus aktivitis politik di Partai Nasionalis Indonesia (PNI). Ayah Pramoedya memiliki cita-cita dalam dunia pendidikan yang sejalan dengan Taman Siswa dan terlibat dalam gerakan nasional dengan melawan tekanan dan tuntutan penjajah, juga sangat aktif di kebudayaan.
Ibunya, Oemi Saidah sendiri orang yang lembut dan lemah. Dia sering sakit-sakitan. Ketika ayahnya tak lagi bertanggung jawab terhadap keluarga, ibunyalah yang mengambil alih semua tanggung jawab. Pengalaman masa kecil itu yang menjadi bangunan kisah dalam kumpulan cerita di Tjerita dari Blora (1952).
Saat kehidupan kian susah, Pramoedya Ananta Toer menjadikan kegiatan menulis sebagai sumber nafkah. Adik-adiknya pun diikutsertakan dalam kegiatan ini, sehingga Pramoedya bisa menghidupi adik-adiknya pasca meninggal ibu yang dicintainya. Karyanya kaya akan kisah manusia yang dibendung oleh kekecewaan, sebagai korban, tak lain cerminan dari kisah hidupnya sendiri. Dalam cerita “Blora”, “Dia Jang Menyerah”, dan Bukan Pasar Malam Pramoedya Ananta Toer secara sadar menggambarkan kehidupan keluarganya di Blora.
Sebagaimana Pramoedya menulis sendiri:
“Cerita selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa atau dewa ataupun hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dipahami daripada sang manusia.. jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biarpun penglihatanmu setajam mata elang; pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka daripada dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.”
Dalam kisahnya, dengan mudah kita temukan Pramoedya sebagai manusia yang terlibat dalam banyak hal, seperti dalam perjuangan bawah tanah gerilyawan Pembela Tanah Air (Peta) melawan penjajah menjadi garis utama plot novel Perburuan (1950) dan penderitaan masyarakat Jawa digambarkan dalam cerita “Dia Jang Menjerah” dalam Tjerita dari Blora. Pengalaman Pram saat revolusi juga tersirat pada cerpen “Dendam”, “Blora”, dan “Jalan Kurantil No. 28” dalam kumpulan cerpen Subuh, Tjerita-Tjerita Pendek Revolusi (1950); “Lemari Antik”, “Kemana??”, dan “Kemelut” dalam kumpulan cerpen Pertjikan Revolusi (1950), begitu pula pada roman Keluarga Gerilja, Kisah keluarga manusia dalam tiga hari dan tiga malam (1950), roman pendek Bukan Pasar Malam (1951), serta roman Di Tepi Kali Bekasi (1951).
Ia menuliskan kisah hidupnya sendiri untuk dapat menghidupi adik-adiknya, menyelamatkan perahu kehidupannya dari keterpurukan ekonomi.

Menulis Untuk Korban
“Revolusi menghendaki segala-galanya – menghendaki korban yang dipilihnya sendiri. Demikian hebatnya revolusi. Kemanusiaanku korbankan meskipun sekarang jiwa dan raganya terpaksa dikorbankan. Namun, itulah paksaan yang dipaksanya pada dirinya sendiri untuk menjalani kekejaman dan pembunuhan agar orang yang ada di bumi yang dipijak ini tak perlu lagi melakukan seperti itu untuk meneruskan kehidupan mereka bahkan boleh terus menikmati kehidupan mereka dengan penuh rasa kemerdekaan.”
Pramoedya memiliki sebuah ideologi yang dipegang erat. Dalam karya-karyanya, ia selalu menulis tentang korban. Wajar, bila tokoh karyanya selalu adalah korban. Bukan korban penjajahan bangsa asing, tetapi korban bangsanya sendiri, korban sistem yang diskriminatif dan tak manusiawi. Keberpihakan Pramoedya terhadap rakyat jelata dan tertindas tetap terasa pada karyanya.
Pada akhirnya pemikiran Pramoedya menjadi sejalan dengan gaya Realisme Sosialis yang diusung oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA), organisasi kebudayaan yang berada di bawah naungan Partai Komunis Indonesia (PKI). Realisme sosialis mengakarkan kreativitas pada kenyataan dan Pramoedya mendasarkan kenyataan pada sejarah yang berpihak kepada rakyat kecil.
Karya fiksi Pramoedya yang menyuratkan ideologi itu sendiri sangat sedikit. Salah satunya cerpen “Paman Martil” yang dimuat dalam kumpulan cerpen Jang tak terpadamkan (1965) yang diterbitkan untuk menyambut ulang tahun ke-45 PKI. Dengan kualitas artistik yang jauh lebih baik ketimbang cerpen tersebut, Profesor AA Teeuw juga memasukkan roman Gadis Pantai (1987) sebagai karya sastra ideologi Pramoedya.

Sejarah Sebagai Bahan Menulis
Tampak Pramoedya mengamini betul apa yang ditulis Maxim Gorki bahwa setiap orang harus tahu tentang sejarahnya. Itu sebabnya sebelum menulis karya-karyanya, Pramoedya akan menghabiskan cukup banyak waktu untuk melakukan riset sejarah. Catatan-catatan dari Pulau Buru (1995), Pramoedya menekankan bahwa turba bukanlah turun secara fisik, yaitu turun ke lapisan bawah masyarakat, melainkan turun ke sejarah, ke dasar. Profesor AA Teuw yang meneliti karya Pramoedya juga mengatakan karya-karyanya adalah hasil riset mendalam, berdasarkan bahan kepustakaan dasawarsa pertama abad ini.
Karyanya yang kental bahan-bahan sejarah adalah tetralogi Karya Buru, yang terdiri atas Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988). Dengan motif yang sama, kita juga dapat menyebut roman Pramoedya paling panjang, yakni Arus Balik (1995) termasuk dalam karyanya yang kental sejarah.
Napas ideologis realisme sosialis Pram juga terasa dalam karya-karya tersebut. Ideologi penulisannya yang demikian itu membuat Pramoedya disisihkan dari sejarah “resmi” kesusastraan modern Indonesia. Total 22 karyanya, baik fiksi dan non-fiksi dilarang oleh pemerintah. Dirinya pun dipenjarakan dan dibuang tanpa mengalami proses pengadilan.

Tak Melupakan Kemanusiaan Pramoedya
Sejak pembebasannya 14 tahun kemudian, Pramoedya menyadari dirinya adalah korban dari sistem yang korup, manipulatif dan destruktif. Di negerinya sendiri, Pram nyaris tak pernah dihargai, apalagi oleh pemerintah. Yang ada, ketika Pramoedya menjadi penerima Ramon Magsaysay Award pada 1995, cukup banyak penulis yang menolak dan bahkan Mohtar Lubis mengembalikan penghargaan yang pernah diterimanya tahun 1958.
 Tak heran apabila kemudian Pramoedya terbakar amarah sendirian. Ia merasa frustasi karena keadilan tak kunjung bisa ia rasakan. Sampai akhir hayatnya, ia masih menjadi korban. Rumahnya yang dirampas tentara tak kunjung dikembalikan, lalu ia tak bisa lagi menulis seluruh karyanya yang dibakar oleh Angkatan Darat, seperti Panggil Aku Kartini 2 dan lebih parah lagi, 22 karya pemikirannya belum dicabut larangannya oleh Kejaksaan Agung.
Dalam penulisan sejarah kesusastraan Indonesia, generasi muda mencoba mengembalikan nama-nama mereka yang berada segaris ideologi dengan Pramoedya Ananta Toer untuk kembali diingat oleh masyarakat. Bukan karena keberpihakan, tetapi karena ingin mengembalikan haknya untuk diingat sebagai bagian dari manusia Indonesia. Generasi ini seolah setuju dengan The New York Times yang pada 1 Mei 2006 menobatkannya sebagai sastrawan yang paling banyak berkorban untuk mendidik bangsanya.
Masih banyak yang harus diupayakan agar Pramoedya kembali menjadi manusia, bukan lagi hantu, momok yang perlu ditakuti. Mengenang kematiannya sebagai peristiwa penting adalah satu jalan untuk mengarah pada upaya-upaya lain untuk mengembalikan hak-haknya sebagai manusia Indonesia.
(Damar Juniarto-Alineatv)-(InfoBlora)

Blora, Negeri Kaya (tapi) Miskin, Kenapa?? Ini Jawabnya

BLORA. Kabupaten Blora adalah kabupaten di ujung timur Jawa Tengah. Kabupaten dengan luas 1.820,59 km² itu memiliki komposisi susunan tanah 56% gromosol, 39% mediteran, dan 5% alluvial. Tanah gromosol cocok untuk pertanian karena berlempung, demikian pula tanah alluvial yang merupakan hasil pengendapan aliran sungai. Berbeda dengan tanah mediteran atau tanah kapur yang tidak subur dan bukan tanah yang baik untuk mengikat air tanah. Keberadaan tanah mediteran yang mencapai 39% luas wilayah menyebabnya sebagian wilayah Blora adalah wilayah yang rawan kekeringan. Itulah sebabnya Blora juga dikenal sebagai daerah sulit air.

Blora terkenal sebagai daerah penghasil  kayu jati dan minyak bumi, karena 49,66% wilayahnya adalah hutan jati dan di salah satu Kecamatan di Blora, yaitu (Blok) Cepu ditemukan cadangan 250 juta barel minyak bumi yang pada tahun 1899 sudah dilakukan ekploitasi. Hanya saja sejak terjadi penjarahan kayu jati, luas hutan jati telah berkurang, sedangkan besarnya cadangan minyak bumi tetap menempatkan Blora (Cepu) sebagai lumbung minyak yang menggiurkan. Heboh kasus Exxon Mobil yang sempat merebak beberapa waktu lalu mengindikasikan hal ini. 

Sumber daya alam berupa kayu jati dan minyak bumi tidak lantas membuat Kabupaten Blora menjadi kabupaten kaya. UU No 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang diantaranya menetapkan kedua sumber daya alam tersebut dikelola oleh Pemerintah Pusat telah membuat Kabupaten Blora hanya mendapatkan ‘sisa-sisa’ kekayaannya.
Itulah salah satu alasan mengapa sampai saat ini Blora tetap saja menjadi kabupaten miskin, karena kekuatan ekonominya lebih banyak ditopang oleh sektor pertanian seluas 40% wilayah (72.502.33ha). Padahal 64.44% dari areal persawahan itu berupa sawah tadah hujan yang siklus pertaniannya mengandalkan musim. Bisa dibayangkan betapa minim produktifitas kabupaten ini. Tidak heran jika PDRD (Produk Domestik Regional Daerah) per kapita Blora pada tahun  2011 hanya sebesar Rp5,9juta, menduduki peringkat ke-33 dari 35 kabupaten di Jawa tengah. PDRD perkapita tersebut jauh lebih rendah dari PDRD perkapita rata-rata Propinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar Rp15,4juta. Artinya rakyat Blora adalah rakyat termiskin ketiga di Jawa Tengah. 

Nasib Kabupaten Blora sebenarnya tidak berbeda dengan kabupaten atau propinsi lain penghasil minyak bumi. Kalimantan Timur misalnya, yang terkenal sebagai sumber minyak bumi, pada tahun 2012 Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak mengaku selama 65 tahun Indonesia merdeka, propinsinya belum mampu membangun daerahnya, apalagi infrastruktur. Bahkan, Kaltim belum bisa membiayai kebutuhan dasar masyarakatnya. Maka wajar jika daerah penghasil minyak bumi menuntut pembenahan regulasi dana bagi hasil yang lebih adil.

Para Pakar Hukum Tata Negara seperti Prof Saldi Isra memberikan penjelasannya tentang hal ini yang menilai bahwa ketidak-adilan itu disebabkan oleh ketentuan Pasal 14 huruf e dan f UU No 33 Tahun 2004 yang memberikan “lorong gelap” yang merugikan daerah penghasil minyak dan gas bumi (migas).
“Kerugian itu disebabkan adanya frasa ‘pungutan lainnya’ dalam pasal itu sebelum dilakukan pembagian dengan daerah penghasil pertambangan migas,” kata Saldi saat diperiksa sebagai ahli pemohon dalam sidang lanjutan pengujian undang-undang PDRD di ruang sidang Mahkamah Konstitusi (MK), Rabu (1/2/2012).
Makanya, kata Saldi, sangat masuk akal jika Pasal 14 huruf e dan f UU No 33 Tahunn 2004 dikatakan bertentangan dengan Pasal 18A UUD 1945 yang menyatakan pemanfaatan sumber daya alam diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras.

Regulasi yang lebih adil sebenarnya telah diberlakukan pemerintah di Propinsi NAD dan Papua dengan UU No 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh dan atau UU No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Undang-undang tersebut diantaranya memerintahkan presiden untuk menerbitkan Perpu. Maka lebih arif jika bagi daerah lain termasuk Kaltim dan Jateng (Blora di dalamnya) juga diberlakukan ketentuan serupa yang nota bene lebih memberikan hak bagi daerah penghasil untuk memperoleh pendapatan yang lebih seimbang dengan potensi sumber daya alam yang dimilikinya.

Sudah saatnya fakta-fakta kontroversi semacam kasus Kabupaten Blora yang kaya sumber daya alam tetapi rendah PDRD perkapita bisa diselesaikan dengan pendekatan regulasi sebagaimana dikemukakan di atas. Tidak mengapa PDRD perkapita tahun 2011 masih rendah, tetapi jika defisit daerah bisa ditutup dengan bagi hasil daerah yang lebih besar, maka daerah akan lebih mandiri secara ekonomi untuk membenahi kelemahannya. Toh dana bagi hasil itu bisa didorong untuk digunakan membenahi sarana dan prasarana yang akan mempercepat perputaran roda ekonomi daerah sebagai penyangga tumbuhnya PDRD per kapita daerah itu. (AL-Kompasiana)

Sumber:

Perbaikan Infrastruktur Akibat Banjir, Pemkab Blora Ajukan Bantuan ke Pusat

Gambar : Rombongan Bupati saat meninjau Jalan Desa di Ds.Nglungger Kec.Kradenan yang terancam longsor tergerus derasnya arus banjir Bengawan Solo beberapa waktu lalu.

BLORA, Terjadinya banjir awal bulan April lalu membawa banyak kerugian di wilayah Kabupaten Blora. Terutama kerusakan infrastruktur di wilayah Kecamatan Cepu, Kedungtuban dan Kradenan yang dilanda banjir luapan Sungai Bengawan Solo. Selain banjir Bengawan Solo, beberapa infrastruktur di wilayah Blora yang lain juga rusak karena diterjang derasnya arus sungai saat curah hujan tinggi.

Di Kecamatan Kradenan longsoran Bengawan Solo mengancam rumah warga, jalan desa pun hampir putus karena tergerus arus sungai. Begitu pula di Kedungtuban dan Cepu. Hal ini perlu penanganan yang serius agar pada tahun mendatang banjir Bengawan Solo dapat dikendalikan.

Derasnya arus sungai saat curah hujan tinggi juga mengakibatkan Jembatan Codong di Kelurahan Pilang Randublatung putus sehingga lalu lintas warga terkendala karena harus memutar lebih jauh. Talud jalan Desa Sumurboto Jepon juga longsor karena tergerus derasnya arus sungai di desa setempat.

"Untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat banjir sebanyak itu dana yang ada di Blora tidak cukup menjangkau semua sehingga Pemkab akan ajukan bantuan perbaikan infrastruktur ke Pemerintah Pusat" kata Kunto Aji, Kepala Humas dan Protokol Setda Blora kemarin (29/4).

Bentuk BPBD
Ketua KNPI Blora, Siswanto terus mendesak agar Pemkab Blora segera bentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) agar terjadinya bencana alam di Kabupaten Blora dapat ditangani secara maksimal. Sampai saat ini Blora merupakan salah satu kabupaten yang belum mempunyai BPBD. Penanganan terjadinya bencana alam masih digabung dengan Satpol PP sehingga penanganannya kurang maksimal.

Memang terdengar kabar Pemkab telah ajukan Raperda Pembentukan BPBD ke DPRD Blora, namun sampai saat ini belum ada hasilnya perda tersebut. (rs-infoblora)

 

Dwi Astutik Ketua Komisi B DPRD Kandidat Ketua DPC PDIP Blora

BLORA- Kekosongan kursi ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blora setelah ketua sebelumnya Hariman Siregar atau Colbert Mangaratua diduga terlibat penyelundupan ekstasi mulai ada titik terang. Pengurus tingkat kabupaten partai berlambang moncong putih tersebut mulai mengadakan penyaringan Ketua DPC yang baru. 

Dwi Astutik menyerahkan blangko dan membayar biaya administrasi sebagai syarat calon Ketua DPC PDI Perjuangan. Penyerahan sengaja diserahkan karena batas akhir penyerahan blangko calon ketua Kamis (11/4) lalu.

”Saya menyerahkan blangko ketua ini. Saya ingin sungguh-sungguh memimpin PDI Perjuangan Kabupaten Blora,” ungkapnya di Kantor DPC PDI Perjuangan. Kedatangan Tutik tersebut tidak sendiri. Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Blora ini didampingi 16 Ketua PAC se Kabupaten Blora.

Sementara para kompetitor kandidat calon Ketua DPC lain yang sudah mengambil blangko dan belum menyerahkan ke secretariat DPC PDI Perjuangan masih diam. Mereka antara lain HM. Dasum, Lina Hartini, Irma Isiana, dan Kartini. “Nanti lima blangko kandidat calon ketua itu diserahkan ke DPD Jateng. Kemudian setelah itu diserahkan ke DPP untuk ditetapkan siapa yang berhak menjadi Ketua,” paparnya. Dia juga menambahkan secara lahir dan batin, dirinya siap memimpin dan membesarkan PDIP Blora bilan nantinya terpilih.

Dihubungi seara terpisah HM Dasum berjanji menyerahkan blangko Ketua DPC PDI Perjuangan tersebut. Wakil Ketua DPRD Kabupaten Blora itu mengatakan bahwa fokus pengurus kader PDI Perjuangan saat ini adalah Pilgub Jateng. ”Kita konsentrasi ke Pilgub dan bukan pada ketua DPC. Namun begitu prinsip kader PDI Perjuangan dimanapun berada adalah disiplin, loyal dan ihlas,” terangnya.

Menurut Dasum khusus untuk penyaringan Ketua DPC PDI Perjuangan ini ada satu syarat untuk setiap calon ketua mengikuti fit and proper test. ”Setelah blangko kandidat calon ketua diserahkan nanti semuanya mengikuti tes yang diadakan oleh DPD dan DPP. Sebab PDIP tidak main-main mencari kader yang dijadikan sebagai ketua DPC nantinya,” jelasnya. (Endah/YD)

Perhutani Siapkan Lahan 1200 Hektar Untuk Budidaya Porang di Blora

BLORA- Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mendukung upaya yang dilakukan PT Perhutani dalam mengembangkan dan membudidayakan tanaman porang di areal kawasan Hutan, terlebih lagi penanaman dan penanaman tanaman porang tersebut melibatkan petani yang ada di sekitar kawasan hutan.

Menurutnya tepung porang saat ini harganya mahal dan sangat dibutuhkan terutama di negara Jepang dan kawasan asia timur. Selain itu juga digunakan untuk industri kosmetik dan obat-obatan.  Dia mengatakan semuanya prosesnya nantinya akan dilakukan oleh Perhutani sehingga petani hanya fokus pada menanam. ”Perhutani sangat responsif dalam melaksanakan programnya, saya tidak mengira akan secepat ini dalam mengembangkan porang di Blora,” ujarnya.


Siapkan Lahan

Direktur Utama PT Perhutani Bambang Sukmananto mengakui di Kabupaten Blora telah disiapkan lahan sekitar 1.200 hektar yang tersebar di empat KPH.
Di antaranya di KPH Randublatung sudah siap 520 hektar, KPH Cepu 480 hektar, KPH Blora 150 hektar, dan KPH Mantingan 50 hektar. Bambang mengatakan potensi porang di Blora sangat besar, kemudian disusul Madiun.”Untuk itu pabrik Tepung Porang nanti akan kami dirikan di Blora, sekitar setahun lagi,” kata Bambang. Pabrik tersebut nantinya bisa menampung 30 ribu ton porang setiap tahunnya. Dengan adanya pabrik di Blora nantinya bisa mengangkat kehidupan masyarakat, termasuk petani yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Menurutnya, porang baru akan bisa dipanen dua tahun lagi, sehingga tahun depan pabrik didirikan dan saat panen hasil tanaman porang dari petani sudah bisa dimanfaatkan.
Selama menunggu panen, petani akan dipekerjakan menanam porang dengan dibayar setiap bulannya.”Petani tidak usah khawatir untuk pemasaran, sebab akan kami tampung semua,” katanya. Selain menanam porang, Dahlan Iskan juga melihat tanaman empon-empon seperti temulawak dan kencur putih yang juga ditanam oleh petani LMDH dikawasan hutan. (Humas Perhutani)

Polda Jateng Berikan Keterangan Terkait Penangkapan 2 Perampok Emas di Blora

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Djihartono memperlihatkan barang bukti berupa senjata api rakitan yang digunakan untuk melakukan perampokan emas di Blora Jawa Tengah saat gelar perkara di Mapolda Jawa Tengah, Selasa (30/4/2013)


SEMARANG,  Direktorat Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Kepolisian Daerah Jawa Tengah menangkap dua pelaku perampokan emas di wilayah Kelurahan Kunden, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (6/4/2013) lalu, tepatnya di Jalan RA Kartini Nomor 51.

Kepala Bidang Humas Polda Jateng Kombes Djihartono menjelaskan, kedua pelaku adalah Khumaidi alias Komed alias Agus (31), warga Genuk, Semarang, dan Iwan alias Jahid (28), warga Lebak, Banten. "Komed ditangkap di rumahnya pada Rabu (24/4/2013), sementara tersangka Iwan ditangkap di Kabupaten Bogor pada Kamis (25/4/2013)," ujar Djihartono dalam gelar perkara di Mapolda Jawa Tengah, Selasa (30/4/2013).

Dalam beraksi, kedua perampok berboncengan dengan sepeda motor. Sebelumnya, mereka telah melakukan perencanaan dan pembagian tugas, salah satunya melakukan sketsa target. "Sketsa targer dilakukan sekitar tiga minggu," lanjut Djihartono.

Para pelaku mengintai korban yang merupakan pedagang emas, Djunaedi (51), saat berkemas dari toko untuk pulang. Sesampai di jalan dekat rumah korban, para pelaku kemudian menghadang dan mengancam dengan menggunakan senjata api rakitan. Pelaku kemudian merebut tas korban dan langsung melarikan diri.

Akibat peristiwa itu, Djunaedi mengalami kerugian berupa emas seberat 3/4 kilogram senilai Rp 800 juta. Kedua tersangka sempat menjadi buron sekitar satu bulan sebelum tertangkap. Salah satu pelaku merupakan residivis dengan kasus yang sama. Sejumlah barang bukti yang diamankan adalah 1 pucuk senjata api rakitan jenis FN, 5 butir peluru kaliber 9 mm, dan 1 buah kalung hasil kejahatan.

Selain itu, juga diamankan sebuah helm, dua lembar kuitansi pembelian tanah, dan satu unit mobil Toyota Avanza warna hitam. Kedua pelaku saat ini ditahan di ruang tahanan Polda Jateng.

Dalam kasus ini, para tersangka dijerat Pasal 365 KUHP tentang Pencurian dengan Kekerasan dengan ancaman hukuman tujuh tahun penjara. 
(Glori K. Wadrianto - Kompas)

Senin, 29 April 2013

APBD Terlambat Ditetapkan, Penyusunan DPA Dipercepat Agar Pembangunan Segera Dilaksanakan


 Kunto Aji, Kepala Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah (Setda) Blora

BLORA - Pemkab Blora melakukan percepatan penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) APBD 2013. Itu dilakukan agar pembangunan dengan anggaran yang didanai APBD bisa segera dilaksanakan. Apalagi tahun ini APBD terlambat ditetapkan.
‘’Biasanya penyusunan DPA normalnya membutuhkan waktu sekitar satu pekan. Kali ini dipercepat menjadi tiga hari,’’ ujar Kepala Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah (Setda) Blora, Kunto Aji, Senin (29/4). Dia mengungkapkan satu hari setelah APBD ditetapkan dalam rapat paripurna DPRD, Rabu (24/4), seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di Pemkab Blora langsung menyusun DPA masing-masing.

Menurutnya Senin (29/4) DPA SKPD tersebut sudah rampung. DPA itu selanjutnya diverifikasi oleh tim verifikator. Kemudian DPA dimasukan ke Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKKAD) untuk disatukan. ‘’Insya Allah jika semuanya lancar maksimal pekan depan DPA itu akan diserahkan oleh bupati kepada setiap SKPD,’’ kata Kunto Aji. DPA-SKPD merupakan dasar pelaksanaan kegiatan APBD oleh penggunaan anggaran pada setiap satuan kerja.

Menurut Kunto Aji, setelah DPA diserahkan oleh bupati kepada setiap SKPD, penggunaan anggaran melalui pelaksanaan kegiatan yang dananya dianggaran dalam APBD sudah bisa dilakukan. ‘’Harapan kami percepatan ini diikuti pula dengan percepatan pelaksanaan kegiatan seperti proyek-proyek pembangunan,’’ tandasnya.

Sejumlah anggota DPRD Blora sebelumnya mengingatkan agar Pemkab Blora melakukan percepatan dalam penyusunan administrasi maupun pelaksanaan kegiatan. Seno Margo Utomo, salah seorang anggota DPRD mengemukakan percepatan itu mutlak diperlukan karena APBD terlambat ditetapkan. ‘’Perencanaan proyek sudah harus disusun. Sehingga tidak butuh waktu lama setelah APBD ditetapkan, proyek-proyek sudah bisa dikerjakan,’’ ujarnya.

Kartini, anggota DPRD lainnya mengemukakan hampir setiap tahun terdapat sisa lebih perhitungan anggaran(silpa) APBD dengan jumlah mencapai puluhan bahkan ratusan miliaran rupiah. Itu karena banyak kegiatan dan proyek yang dananya telah dianggarkan dalam APBD ternyata tidak bisa dikerjakan. Pihaknya tidak ingin hal itu terulang lagi tahun ini. Karena itu anggota DPRD dari PDIP tersebut meminta Pemkab Blora melakukan percepatan pelaksanaan pembangunan. ‘’Supaya masyarakat Blora lebih bisa menikmati hasil pembangunan yang dananya dianggarakan dalam APBD,’’ tegasnya. ( Abdul Muiz / CN34 / JBSM ) - (Suara Merdeka)

Bibit Waluyo : 1,7 Juta KK di Jateng Belum Teraliri Listrik Diantaranya Pekalongan & Blora

 
SEMARANG,- Listrik menjadi daya ungkit pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah. Namun, sampai saat ini sebanyak 1,7 juta kepala keluarga (KK) belum teraliri listrik. Gubernur Jateng Bibit Waluyo mengungkapkan, energi listrik ikut menopang pertumbuhan perekonomian. Pertumbuhan ekonomi di Jateng tumbuh positif mencapai 6,34%. Hal ini seiring daya ungkit energi di Jateng yang semakin membaik. Namun, masih ada 1,7 juta KK yang belum teraliri listrik.

"Sejumlah daerah seperti Pekalongan dan Blora banyak yang belum teraliri listrik. Untuk itu ke depan saya berharap PLN segera merealisasikan pengaliran listrik di beberapa wilayah Jateng," katanya saat penandatanganan nota kesepahaman Pengembangan Ketenagalistrikan Provinsi Jateng 2013-2016 di kantor PLN Distribusi Jateng-DIY, kemarin.

Selain itu, Bibit berharap pembangunan jaringan listrik dan instalasi di Karimunjawa Kabupaten Jepara segera direalisasikan. Mengingat banyaknya potensi pariwisata di wilayah tersebut. Selama ini, warga Karimunjawa masih bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang dikelola Pemkab Jepara. Namun, PLTD tersebut tidak mampu mengalirkan listrik selama 24 jam. Untuk kawasan pemukiman warga, listrik menyala mulai pukul 18.00-06.00 WIB.

Namun, untuk kawasan perkantoran setingkat kecamatan listrik menyala pukul 09.00-15.00. General Manager PT PLN (Persero) Distribusi Jateng-DIY, Djoko Rahardjo Abumanan menyatakan siap membangun jaringan listrik berbasis compressed natural gas (CNG) di Karimunjawa. Jaringan tersebut mulai dibangun pada awal 2014 dan diharapkan dalam tiga bulan bisa selesai. Berdasar hitungan, saat ini kebutuhan listrik di Karimunjawa sekitar 500 KVA.

"Pembangunan jaringan listrik di beberapa daerah termasuk Karimunjawa sejalan dengan upaya mengejar target rasio elektrifikasi hingga 90%. Pada 2012 lalu mencapai 80,4%. Diharapkan dalam empat tahun ke depan bisa 90%," terangnya. Tercatat, jumlah pelanggan PLN area Jateng-DIY sebanyak 8,5 juta pelanggan. Pembagian prosentase kapasitas daya terbesar masih kota Semarang dan Surakarta.

Sementara kota-kota lainnya seperti Kudus dan Rembang juga semakin bertumbuh seiring banyaknya industri yang dibangun. Djoko menambahkan, aliran daya tertinggi saat beban puncak pelanggan berada di Purwokerto dan Boyolali. Hal ini disebabkan makin bertumbuhnya industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di wilayah itu. ( Fista Novianti / CN39 / JBSM ) - (Suara Merdeka)

Ki Purbo Carito (Filly Andika) kader IPM dari Blora Ndalang di Kudus

KUDUS,- Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kabupaten Kudus menggelar pementasan wayang oleh dalang Ki Purbo Carito (Filly Andika) kader IPM dari Blora, yang masih duduk dibangku SMA dengan lakon 'Wisanggeni', Minggu (28/4). Ketua Organisasi PW IPM Jawa Tengah, Sonny Kurniawan mengatakan lakon tersebut merupakan perumpaan bagi kader IPM yang akan muncul sebagai pemimpin dengan membawa karakter cerdas bernas, dan mental yang berkelas. “Pelajar adalah pewaris sekaligus penerus estafet perjuagan bangsa, tentu bukan sekadar retorika namun suatu keharusan bahkan sunnatullah. Pelajar Muhammadiyah selain sebagai kader bangsa juga memangku sebagai kader umat dan ikatan dengan spirit gerak yaitu pelopor, pelangsung dan penyempurna amanah,” kata Sonny. Selain pementasan wayang, panitia juga menggelar seminar bertema 'Pelajar Karakter sebagai Tiang Negara'. Hadir dalam kegiatan tersebut pembicara dari berbagai organisasi pelajar di Jawa Tengah antara lain, Muhammad Ulum (PW IPNU Jateng), Nur Syam Cholil (PW PII Jateng), Teguh Anshori (PW IPM Jateng), serta dari kalangan akademisi Asep Purwo YU M Pd (Dosen Unnes). Diskusi tersebut banyak mengkritisi kebijakan pemerintah seperti sistem pendidikan di Indonesia yang belum humanizing human dan masih tumpang tindih dari segala lini kebijakan. "Selain itu kajian pelakasanaan UN juga menjadi pembicaraan panas, sehingga pelajar Muhammadiyah Kabupaten Kudus serentak mendukung UN untuk dihapuskan," Imbuh Sonny. ( Irsyam Faiz / CN37 / JBSM ) - (Suara Merdeka)

Mekar Jaya Blora


Mekar Jaya Blora

BLORA. Salah satu toko serba aneka di Blora. Mulai perabotan elektronik, perabotan dapur hingga peralatan mesin jahit. Terletak di Jalan Pemuda 19. Pelayanan yang ramah serta harga bersaing menjadi daya tarik tersendiri Toko Mekar Jaya.

Nurkhasanah ER Siswi SMAN 1 Blora Juara I Karya Tulis Ilmiah Cagar Budaya Tingkat Nasional

Nurkhasanah Eka Riyani, siswi SMA Negeri 1 Blora juara I lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional tentang Cagar Budaya.

Lomba diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional. Sebanyak 50 pelajar SLTA baik negeri maupun swasta mengikuti lomba yang diselenggarakan di Surakarta.

Dengan judul “Situs Sangiran Dahulu, Kini dan Esok,” akhirnya Eka menyabet juara I dengan menyisihkan 49 peserta lainnya dari berbagai daerah di Indonesia.

Atas prestasi yang telah diperolehnya, Eka berhak mendapatkan piagam, trophy dan uang pembinaan sebesar 10 juta rupiah.

Dyah menuturkan lomba karya tulis
ilmiah ini bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan dan apresiasi generasi muda terhadap cagar budaya, dan melatih generasi muda untuk mengungkapkan secara tertulis tentang kehidupan masa lampu melalui argumentasi fakta-fakta dan data arkeologi.

Retna Dyah Radityawati selaku guru pembimbing berharap agar kedepannya semakin memotivasi pelajar lainnya untuk mengikuti lomba karya tulis.

“Prestasi yang sudah diraih semoga berlanjut ditahun mendatang. Semoga generasi muda makin tahu dan mencintai cagar budaya,” harap Dyah yang merupakan staf pada Bidang Kebudayaan di Dinas
Perhubungan, Pariwisata, Kebudayaan, Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Kab. Blora.

Dyah menuturkan, lama penulisan karya ilmiah tersebut 2 (dua) bulan lebih, mulai dari penentuan judul, survey lapangan hingga persiapan presentasi. Bahasan dimulai dari aspek kesejarahan dan kepurbakalaan, dilanjukan dengan aspek perlindungan, pengembangan dan pemanfaatannya.

Sedangkan obyek penulisan adalah cagar budaya yang ada di Jawa Tengah, yakni Candi Borobudur, Candi Sewu, Candi Dieng, Candi Gedongsongo, Masjid Agung Demak, Masjid Menara Kudus, Kraton Kasunanan, Pura Mangkunegaran, Situs Sangiran, Situs Patiayam dan
kawasan cagar budaya Kota Lama dan Pecinan.

Untuk penilaian tahap I. Aspek lomba yang dinilai, meliputi : tata tulis, metodologi dan substansi naskah harus memiliki kriteria ilmiah dan menarik. Kemudian penilaian tahap II atau grand final yang digelar di Surakarta (24-26/4) untuk menentukan juara I, II, III dan Harapan I, II dan III dan Atribut. Unsur penilaian meliputi Penyajian Presentasi, Penguasaan Materi dan Penggunaan Media.

Selain Eka, 2 (dua) pelajar Blora lainnya yang juga mengikuti lomba. Desnaeni
Hastuti yang juga siswi SMA Negeri 1 Blora menjadi juara Atribut I, sedangkan Endah Wahyu S. yang merupakan siswi SMA Negeri 1 Cepu juara Atribut II. (DPPKKI Kab. Blora)

Dahlan Iskan Rela Tak Dibayar Asal Empon-empon Petani Hutan di Blora dibeli PT.Sidomuncul



BLORA - Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan berkunjung ke kawasan hutan milik PT Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Cepu, Sabtu (27/4). Dahlan mengaku sangat tertarik dengan banyaknya tanaman empon-empon dan porang yang ditanam di bawah tegakan pohon jati di kawasan hutan.

Terlebih lagi itu ditanam oleh petani masyarakat desa hutan yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) setempat. "Setelah dipanen, ini hasilnya sangat baik dan banyak," ungkap Dahlan sambil menunjukan bongkahan temulawak yang dicangkulnya sendiri dari dalam tanah, di BKPH Cabak, KPH Cepu.

Setelah mencangkul untuk mengambil bongkahan empon-empon, Dahlan tanpa sungkan langsung mengunyah temulawak yang berwarna kuning cerah itu. Aksi mantan Dirut PLN ini kontan mengagetkan semua yang hadir, beberapa saat kemudian Bambang Sukmananto juga melakukan hal yang sama. "Ternyata enak juga rasanya segar dan cocok untuk obat," ungkapnya spontan.

Spontanitas Dahlan tidak cukup sampai di situ, setelah puas mengunyah tanaman obat itu, dengan gesit Dahlan yang memakai kemeja warna putih langsung merangsek ke depan menerobos tingginya tanaman empon-empon, tak hayal dirut Perhutani, Bupati Blora dan para administratur KPH kaget dan langsung mengikuti aksi Dahlan.

Meski tidak berlangsung lama, namun hal itu sudah cukup memuaskan Dahlan, karena bisa langsung melihat tanaman yang subur dan hasilnya sangat baik.

Dibeli Pabrik

Dia mengakui, dibandingkan dengan porang, empon-empon hasilnya tidak begitu banyak. Meskipun demikian karena banyaknya petani di lahan hutan yang menanam, maka hasilnya bisa dijual petani. Untuk itu dirinya akan berusaha agar hasil panen dari empon-empon petani di Blora akan di beli oleh pabrik jamu dalam hal ini PT Sidomuncul.

Dahlan sendiri saat ini menjadi salah satu bintang iklan dari salah satu produk jamu ternama tersebut. Dia berkomitmen, tidak perlu dibayar asalkan hasil dari petani empon-empon bisa dibeli semua oleh PT Sidomuncul.

Direktur Utama PT Perhutani Bambang Sukmananto menyambut baik tawaran itu dan berharap Dahlan selaku Menteri BUMN bisa membantu petani. ''Kami sangat berharap hasil panen empon-empon di lahan Pehutani bisa dibeli dan bisa kerja sama dengan PT Sidomuncul selaku pabrik jamu olahan di Jateng ini.''

Bambang mengakui, selama ini pasar empon-empon belum jelas, sehingga banyak petani yang resah sebab hasil panenya tidak bisa dijual seluruhnya. "Kami harap janji Pak Dahlan ini bisa segera terwujud. Apalagi, beliau adalah salah satu bintang iklan dari Sidomuncul," harap Bambang.

Dengan demikian, maka ratusan hektare tanaman empon-empon yang ada bisa terserap untuk meningkatkan kesejahteraan petani setempat. (gie-42,47)- (Suara Merdeka)

Opsi 2 Harga BBM Ditolak, Besok Pagi SBY Umumkan Kenaikan BBM Satu Harga



Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Jero Wacik, mengisyaratkan kebijakan dua harga untuk bahan bakar minyak bersubsidi bakal ditinggalkan pemerintah. "Kemungkinan satu harga sesuai keinginan masyarakat dan di bawah Rp 6.500 per liter," kata Jero seusai rapat kabinet terbatas membahas kebijakan BBM, di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin, 29 April 2013.

Ia belum bisa memastikan harga pasti BBM bersubsidi nantinya lantaran masih dalam penghitungan pemerintah. Meski begitu, Jero memastikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bakal mengumumkan kebijakan BBM ini dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrembangnas), Selasa, 30 April, besok. "Akan diumumkan opsi yang diambil," ujarnya.

Menurut Jero, kebijakan dua harga BBM bersubsidi yang kemungkinan besar bakal ditinggalkan pemerintah dilatarbelakangi masukan masyarakat dan Dewan Perwakilan Rakyat agar kebijakan itu tak diterapkan. "Beberapa gubernur mengusulkan lebih praktis satu harga, tetapi di bawah Rp 6.500," ucap dia.

Presiden SBY, ia menambahkan, juga meminta masukan masyarakat itu didengarkan. Jika nantinya dipilih opsi satu harga, Jero menyatakan perlu dihitung beberapa hal, seperti angka inflasi dan kompensasi untuk masyarakat. "Kompensasi harus jelas. Apa saja? Berapa? Dalam bentuk apa?" katanya. Selain itu, perlu juga ada bantuan dana tunai. "Kalau tidak, rakyat miskin tak terlindungi." (rs-suara blora)

Polres Blora Siap Amankan Pelaksanaan Pilgub Jateng 2013


RUSUH : Anggota Polres Blora saat simulasi menghadapi aksi rusuh Pilgub Jateng oleh ulah provokator.

BLORA – Kepolisan Resor (Polres) Blora menyatakan kesiapannya mengamankan jalannya Pemilihan Umum Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah. Untuk keperluan itu, disiapkan 550 personil, dan bukti kesiapan itu disampaikan Kepala Polres AKBP Kukuh Kalis Susilo dengan menggelar simulasi pengamanan Pilgub Jateng.
Dalam simulasi, ada tujuh peragaan yang memakan waktu sekitar 1,5 jam untuk pengamanan Pilgub, dan Polres Blora siap mengamankan Pilgub Jateng dari para perusuh dengan cara pembagian personil polisi di setiap desa ditempatkan dua petugas, jelasnya Minggu (28/4).
“Kami tempatkan personil Polres di desa-desa, dan anggota KPPS bisa kontak langsung ke masing-masing anggota,” jelasnya saat mampir di kantor Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Blora.
Khusus untuk peragaan atau simulasi pengamanan yang digelar baru-baru ini, adalah bentuk aksi pengamanan yang diikuti dari semua unsur Polres mulai dari intel, Satlantas, Resmob, dan unsur lain tersebut dimulai pencoblosan kartu suara oleh warga.
Di lokasi tersebut terdapat Kotak suara di tempat pemungutan suara (TPS). Warga yang datang mulai dari tuna rungu dan lansia. Setelah perhitungan suara dan terdapat saksi dari pasangan calon masing-masing, terjadi kericuhan, dan setelah ditangkap ternyata bukan warga setempat.
Rebut Kotak Suara
Peragaan lain, saat penyerahan hasil perhitungan suara ke Panitia Pemungutan Suara (PPS) sebuah desa terpencil, kejadiannya saat kotak suara dibawa naik sepeda motor tiba-tiba dihadang oleh segerombol orang yang ingin merebut kotak suara tersebut.
Dalam adegan tersebut, polisi lalu bertindak tegas dan membekuk para perusuh, kemudian perusuh ditangkap, diamankan dan diperiksa oleh penyidik di Mapolsek terdekat, selanjutnya dibawa untuk diamankan di Mapolres.
Aksi simulasi lainnya, saat kotak suara sampai Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), memang tidak ada kendala, dan kotak suara langsung dibawa ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Saat di KPU itu provokator beraksi untuk merebut kotak suara, namun mampu diamankan polisi.
“Dalam Pilgub dan Pemilu, tugas utama polisi adalah memberikan rasa aman masyarakat, ini agar hak pilihnya tersalurkan,” tandas Kepala Polres AKBP Kukuh Kalis Susilo. [wah]

Saat Tanam Porang di Blora, Ditanya Tentang Rencana Nyapres. Ini Jawaban Dahlan Iskan


PORANG : Menteri BUMN Dahlan Iskan, memimpin tanam massal ubi porang di hutan jati Mrico Kecut, petak 7087-D, RPH/BKPH Cabak, KPH Cepu, Kecamatan Jiken, Blora, Sabtu (27/4).

BLORA Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Republik Indonesia (RI) Dahlan Iskan, masih enggan berkomentar soal calon presiden (capres) mendatang dan rencana digandengnya tokoh pers itu oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), guna mendongkrak Partai Demokrat (PD) pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2014.
“Saya datang kesini untuk menanam ubi porang, untuk bisa bertemu langsung dengan warga, petani dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) di Blora,” tegasnya saat dia memimpin gerakan massal menanam ubi porang di lahan hutan Mrico Kecu, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Perhutani Cepu, Blora, Sabtu (27/4).
Menteri BUMN itu juga enggan berkomentar, kalau dirinya mulai jadi pembicaraan ramai di tingkat bawah (rakyat), di banyak daerah termasuk Blora sebagai figur yang layak menjadi calon Presiden atau Wakil Presiden pada Pemilu mendatang.
“Wah itu baru berita, berita menarik ya, tapi saya kesini untuk menanam porang, bukan menanam Demokrat. Lihat itu, saya sedang diawasi banyak Panwaslu,’” tegasnya pada wartawan Media Bawaslu Jateng sambil tertawa menuju tenda tempat pertemuan dengan warga dan LMDH, di di hutan jati Mrico Kecut, petak 7087-D, RPH/BKPH Cabak, KPH Cepu, Kecamatan Jiken, Blora.
Dalam kunjungannya, Menteri BUMN diaweasi oleh lebih dari 20 anggota Panwaslu, yakni Panwalsu Kecamatan Jiken, Kecamatan Sambong, Divisi Pengawasan dan Hubungan Antar Lembaga yang juga Ketua Panwaslu Kabupaten Blora, Wahono.


MASSAL : Menteri BUMN Dahlan Iskan, memukul kenthongan tanda dimulainya tanam massal ubi porang di hutan jati Mrico Kecut, petak 7087-D, RPH/BKPH Cabak, KPH Cepu, Kecamatan Jiken, Blora, Sabtu (27/4).

Menteri BUMN itu minta untuk bertanya soal partai politik, capres atau cawapres dan seputar isu politik lainnya, dia minta kedatangannya di Blora untuk mendukung Perum Perhutani mengembangkan tanaman porang dan empon-empon, guna meningkatkan pendapatan rakyat.
Dahlan yang suka ngomong ceplas-ceplos dengan sepatu cat-nya, berharap tanaman ubi porang dan jenis tanaman pertanian lainnya bisa menjadi komoditas ekspor. Paling tidak, tambahnya, warga, petani dan anggota LMDH mendapatkan pendapatan tambahan selain tanaman rutin pertanian mereka.
Menurutnya, kunjungan kedua setelah awal Januari 2013 lalu menarik untuk ditindaklajuti, sebab ketika itu dia mengaku tergesa-gesa dan hyanya menggelar dialog di tengah hgtan jati dengan pengurus lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) terkait budidaya tanaman empon–empon jenis temulawak di Petak 45 Resor Polisi Hutan (RPH) Soka, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kedungjambu.
Kali ini, tambahnya, ada waktu cukup lumayan untuk bertemu warga, sebab pegembangkan porang, yakni tanaman jenis umbi-umbian mempunyai pangsa pasar luas, dan pengembangannya difokuskan di Kabupaten Blora dengan melibatkan petani di wilayah hutan, dengan target BUMN (Perhutani) bisa menghasilkan 30 ribu ton pertahun.
’’Porang hasilnya lebih banyak dibanding dengan tanaman lain. Saya sudah keliling untuk membuktikan itu, bahkwan di sela-sela tegakan hutan, ditanami berbagai tanaman mulai palawija, jarak, sampai empon-empon. Tapi rupiahnya jauh lebih banyak jika ditanami porang, papar ’’ katanya.
Untuk porang seperti ini, seluruh dunia membutuhkannya, sehingga pasarnya luas. Menanam porang hasilnya lima kali lebih besar dibanding menanam empon-empon, dan sepuluh kali lebih besar dibanding menanam jarak,’’ jelasnya menambahkan. [wah]

Dua Perampok Juragan Emas di Blora Telah Ditangkap Polda Jateng



SEMARANG. Masih teringat tanggal 6 April lalu saat sepasang suami istri juragan emas dirampok di Jl.RA Kartini Kota Blora. Setelah sempat diburu selama 3 minggu akhirnya dua orang perampok emas itu berhasil diringkus Tim Jatanras Kriminal Polda Jateng.

Identitas kedua perampok emas itu adalah Agus alias Candra alias Doni warga Bangetayu Kec.Genuk Semarang. Yang kedua adalah Umar alias Iwan alias Jablay warga Pandeglang Banten. Kedua pelaku berhasil diringkus tak jauh dari rumah tempat tinggal mereka masing-masing oleh Tim Jatanras Direktorat Kriminal Umum Polda Jateng yang dipimpin Kompol Budi Utomo, AKP Yahya R.Lihu dan Iptu Aji Darmawan.

Dalam aksinya di Blora kedua pelaku berhasil menggasak perhiasan emas milik Djunaedi (51) warga Jl.Gunung Sumbing Tempelan Kota Blora. Saat itu korban yang juga merupakan juragan Toko Emas Temok Jaya di Pasar Kota Blora hendak menitipkan perhiasan emas di rumah mertuanya di Jl.RA Kartini Kunden, namun begitu turun dari motor korban langsung dipepet pake motor dan ditodong dengan senjata api. Karena ketakutan jiwanya terancam korban memberikan tas berisi 4 kg emas kepada pelaku. Berhasil melakukan aksi sang pelaku kabur membawa tas naik motor ke arah Rembang.

Dari penangkapan ini Polisi menyita barang bukti sebuah senjata api rakitan, satu mobil avanza dan 1 sepeda motor yang digunakan untuk beraksi. (rs-suara blora)

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII Sunan Pojok Teliti Masyarakat Samin di Klopoduwur Blora



Blora,Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII Sunan Pojok mengunjungi pemukiman suku Samin Blora di dusun Karangpace-Klopoduwur Kecamatan Banjarejo, Blora. Koordinator kegiatan, Abdul Malik menuturkan keinginan untuk meneliti masyarakat Samin sebenarnya sudah lama namun tuntutan akademis mengharuskan mahasiswa untuk menyelesaikan tugasnya yaitu mengikuti agenda perkuliahan.

Kegiatan yang dirangkai dalam RTL (Rencana Tindak Lanjut) PMII ini menitikberatkan pada akar sejarah masyarakat Samin yang merupakan salah satu icon Blora, selain batik Blora dan sate Blora. Rumor tentang keterbelakangan masyarakat Samin menginspirasi mahasiswa PMII Sunan Pojok Blora untuk meneliti secara langsung keadaan masyarakat Samin yang sebenarnya.

Dalam penelitian tersebut, PMII Sunan Pojok didampingi langsung oleh sesepuh desa Klopoduwur, Mbah Lasiyo.

Beberapa kesimpulan hasil dari penelitian tersebut antara lain, masyarakat Samin telah mengalami perkembangan pada sisi sosial dan kegiatan perekonomian. Adat istiadat Samin yang berupa ritual tetap dilaksanakan dengan konsisten pada waktu-waktu tertentu.

“Kami (masyarakat Samin) berpuasa ngrowot (hanya memakan umbi-umbian) setiap bulan Suro,” terang Mbah Lasiyo dihadapan para mahasiswa.

Masyarakat sekitar desa Klopoduwur menyambut baik kegiatan penelitian tersebut. Masyarakat berharap agar hasil penelitian tersebut dipublikasikan supaya stigma miring pada masyarakat Samin dapat tertepis.

“Kami berharap, selain untuk menggali lebih dalam tentang kondisi masyarakat Samin yang sebenarnya, juga sebagai ajang silaturahim kepada masyarakt samin secara lebih dalam,” jelas ketua PMII Sunan Pojok M Ircham Sahidin mengakhiri sambutannya.

Redaktur: Mukafi Niam - NU online

Minggu, 28 April 2013

Kompetisi Sepakbola Divisi I Segera Bergulir, BLAI Resmi Jalankan Unfikasi Liga.



Dalam PO nomor 7 tahun 2009, jumlah peserta Divisi I adalah 66 klub. Dan, untuk Divisi II sendiri maksimal diikuti 100 klub.
Kembali ditunjuk sebagai satu-satunya operator kompetisi liga amatir di tanah air, Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) resmi mulai menjalankan unifikasi (penggabungan) kompetisi musim 2013.

Dalam pertemuan pemilik klub calon peserta kompetisi Divisi Satu dan Divisi Dua, yang juga dihadiri Sekjen PSSI Hadiyandra di VIP Barat Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (27/4), seluruh pihak bersepakat bersama-sama kembali berkompetisi dibawah satu payung yakni BLAI.

Setelah forum pertemuan ini, proses selanjutnya adalah verifikasi awal klub peserta kompetisi BLAI dan Direktorat Liga Amatir. Untuk Divisi Satu finalisasi peserta musim 2013 akan dikeluarkan pada 29 April, sedang untuk Divisi Dua baru 4 Mei 2013. Berdasar rekap data awal, saat ini terdapat 79 klub calon perserta kompetisi untuk Divisi Satu, dan 88 klub buat Divisi II.

"Langkah awal yang kami lakukan adalah meminta data dan hasil kompetisi musim lalu dari liga amatir yang dikelola Direktorat Liga Amatir. Dari data itu, kami sesuaikan dengan Peraturan Organisasi (PO) nomor 7 tahun 2009 soal kompetisi, PO dan Manual Liga dari Direktorat Liga Amatir, dan Hasil kompetisi amatir pada 2010," terang CEO BLAI Syauqi Soeratno.

"Penggunan hasil kompetisi musim 2010 sebagai salah satu pijakan penggabungan kompetisi, karena itulah kompetisi amatir terakhir yang bergulir sebelum kisruh terjadi," sambung Syauqi.

Verifikasi ini sendiri dibutuhkan untuk memastikan hak klub-klub peserta dan menyelesaikan permasalahan yang hadir akibat buntut dari dualisme musim lalu. BLAI juga meminta peserta kompetisi harus anggota PSSI dan tidak memiliki catatan dualisme.

Jika ada tim yang mengalami dualisme, maka BLAI meminta kepada klub-klub tersebut untuk menyelesaikan masalah secara internal. BLAI akan memberikan tenggat waktu dari 29-30 Mei 2013 kepada klub untuk menyelesaikan masalahnya. Jika tidak selesai, maka BLAI yang mengambil keputusan.

Merujuk pada hasil verifikasi awal BLAI, besar kemungkinan peserta Divisi Satu bakal melebihi kuota peserta seperti yang diatur dalam PO nomor 7 tahun 2009. Dalam PO nomor 7 tahun 2009, jumlah peserta Divisi I adalah 66 klub, dan untuk Divisi II sendiri maksimal diikuti 100 klub.

Untuk level profesional yang melibatkan PT Liga Indonesia (LI) selaku operator Indonesia Super League (ISL) dan Divisi Utama (DU), dengan PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) selaku operator Indonesia Premier League (IPL) dan Divisi Utama (DU), unifikasi liga baru akan dijalankan pada musim 2013/2014.

Namun, sebelum level profesional laksanakan amanat KLB PSSI 17 Maret 2013 itu, level amatir yang melibatkan Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) dengan Direktorat Liga Amatir, justru melangkah lebih dulu. Ini dilakukan karena berbeda dengan kompetisi diatasnya yang sudah bergulir, di level Liga Amatir kompetisi belum sama-sama bergulir.

Dalam KLB PSSI 17 Maret 2013, selain mendapat amanah menjadi tombak penggabungan kompetisi liga amatir, dan sebagai satu-satunya operator Divisi Satu, Divisi Dua, dan Divisi Tiga, BLAI diputuskan juga sebagai operator kompetisi pembinaan yakni Piala Menpora U-15, dan Piala Soeratin U-18.

JADWAL PERSIAPAN PELAKSANAAN DIVISI I 2012/2013
Finalisasi Calon Peserta: 29 April 2013
Pendaftaran Klub Peserta Kompetisi: 27 April-8 Mei 2013
Pengajuan Tuan rumah: 27 April-13 Mei 2013
Pendaftaran Pemain: 27 April-1 Juni 2013
Rapat Antarmanajer & Workshop: 18 Mei 2013
Pelaksanaan Kompetisi: 16 Juni-9 November 2013
Diberdayakan oleh Blogger.

 

© 2013 INFOBLA. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top