Tampilkan postingan dengan label Sosial Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Mei 2013

BKB (Bina Keluarga Balita) Lestari Handayani Jepon - Blora Nominasi Terbaik se Jawa Tengah



BLORA. BKB (Bina Keluarga Balita) Lestari Handayani RW 07.Kelurahan Jepon Kecamatan Jepon Kabupaten Blora menjadi salah satu nominator lomba Bina Keluarga balita tingkat Propinsi Jawa Tengah.Hal ini setelah dalam penilaian sebelumnya,berhasil menempati 5 (lima) besar terbaik dan dinominasikan untuk penilaian berikutnya setelah seleksi kategori Bidang tertib administrasi.

Acara yang menampilkan berbagai bentuk kegiatan anak-anak ini sebelumnya dibuka oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Blora Hj.Umi Khulsum Djoko Nugroho kemarin (14/5) di lokasi kegiatan BKB RW.07 Kelurahan Jepon, Kec.Jepon, Kab.Blora.

Dalam kata sambutanya istri Bupati Blora ini berharap agar kesiapan peserta yang cukup lama akan berbuah hasil yang baik yaitu memperoleh juara.” Semoga Juri bisa obyektif menilai, dan saya percaya apabila hasilnya seperti yang kami harapkan, yaitu bisa menjadi juara dan mewakili Jawa Tengah “ katanya.

Sebagai Ketua Tim Penggerak PKK, pihaknya sangat peduli terhadap kegiatan yang dilaksanakan mulai dari terbentuknya BKB (Bina Keluarga Balita) di seluruh Kabupaten Blora hingga bisa berbicara pada tingkat nasional.

Sebelum ini Kab.Blora juga pernah meraih penghargaan serupa, yaitu pada tahun 2009 menjadi Juara nasional lewat Posyandu Lestari Desa japah, Tahun 2010 Juara II Propinsi dari hasil penilaian Posyandu desa Sidorejo yang berlanjut kemenangan pada lomba berikutnya menjadi Juara I Prov. Jawa Tengah untuk penciptaan Modul Posyandu.Dua juara berikutnya juga diperoleh dari lomba KB Kesehatan Tingkat propinsi jawa Tengah dan PHBS tingkat Propinsi yang diwakili oleh desa Nglobo Kecamatan Jiken.

Sebelumnya BKB lestari handayani RW 07 Jepon juga pernah menorehkan prestasi menjadi juara 2 Posyandu terbaik Tingkat Prop.Jawa Tengah pada tahun 2010, dan juara 3 PAUD terbaik pada tahun yang sama.

Sementara itu ditemui terpisah, Dewan Juri yang menilai Lomba tersebut, Ali yahya dari PKK Prop.Jateng, Drs,Triyono Mpd.,serta Nitya Apranadyanti S.Psi dari BKKBN propinsi Jawa Tengah mengatakan BKB
Lestari Handayani RW 07 Jepon Blora ini sangat potensial.Dilihat dari segi administrasi serta kelengkapan alat peraga bisa menjadi salah satu acuan pokok dalam penilaian.” Sekilas memang seperti yang terjadi pada saat penilaian administrasi sebelumnya, semoga fisiknya juga sama baiknya” ucap ali Yahya.

Acara ini di hadiri Ketua Tim Penggerak PKK Kab.Blora, ka.BPMPKB Blora, unsur Muspika serta warga masyarakat kecamatan Jepon Kabupaten Blora.Selain menampilkan kesenian juga dipamerkan hasil kreasi lain berupa bathik khas Blora dan Makanan ringan hasil Produksi BKB
lestari Handayani RW 07 Kelurahan Jepaon, kec. Jepon ,Kab.Blora. ( DPPKKI Kab. Blora) - (infoBlora)

Seni Barongan Blora Tampil di Pembukaan Kejuaraan Tenis Tingkat Jateng

BLORA. Memanfaatkan moment yang tepat untuk mengenalkan kesenian khas daerah, bisa lewat berbagai acara.Termasuk salah satunya adalah mengenalkan Barongan Blora melalui ivent Lomba olahraga. Seperti yang berlangsung pagi tadi (14/5) dalam kejuaraan Tenis beregu antar Dinas Teknis Bidang Keolahragaan se Jawa Tengah yang berlangsung di Lapangan Tenis Pringgodani Blora.

Sebelum acara resmi dibuka, Tim Lodro Barong binaan Bidang Kebudayaan DPPKKI Kab.Blora tampil memukau di depan ratusan Peserta yang hadir.Dengan menampilkan kolaborasi antara tarian kuda lumping dan barongan. Bupati Blora Djoko Nugroho, membuka secara resmi acara yang diikuti oleh Bidang keolahragaan dari 17 Kabupaten di Jawa Tengah ini.

Sebelum pembukaan acara tersebut, sejumlah penari dan seni khas barongan Blora menampilkan beberapa tarian didepan peserta yang datang dari berbagai kota di Jawa Tengah tersebut.

Dalam sambutanya, Bupati Blora mengajak kepada seluruh peserta untuk bisa mengapresiasi pertunjukan itu sebagai penyemangat.” Barongan identik dengan jiwa yang berkobar, sehingga ini bisa dijadikan penyemangat sebelum bertanding”Ucap Bupati di sela-sela sambutanya.

Pertandingan Tenis beregu antar Dinas Teknis Bidang keolahragaan se jawa Tengah diikuti oleh peserta dari 17 Kabupaten kota se Jawa Tengah.Terbagi dalam 4 Pool pertandingan yaitu pool A terdiri dari Dinpora Propinsi Jawa Tengah, Kota Tegal, Kab.Cilacap dan Kab.Sragen.Pool B ditempati oleh Kab.Banyumas, Kab.Blora, Kab.Grobogan dan Kab.Sukoharjo. Pool C diikuti oleh
Kota Surakarta, Kab.Klaten, Kota salatiga, kab.Kebumen, dan Kab.Pati. Sedangkan Kelompok terakhir diikuti oleh Kabupaten Wonogiri, Magelang, Kota Pekalongan dan Kab.Pekalongan.

Hadir dalam acara itu Kepala Dikpora Provinsi Jawa Tengah, Bupati Blora Djoko Nugroho yang sekaligus membuka acara tersebut serta para Kepala Kantor Dinas instansi se Kabupaten Blora.Kejuaraan Tenis beregu antar Dinas Teknis Bidang olahraga se Jawa Tengah ini akan berlangsung dari tanggal 14 s/d 16 Mei 2013 di Lapangan Tenis Pringgodani Blora.(DPPKKI Kab. Blora) - (infoBlora)

Seni Barongan Blora, Sejarah dan Perkembangannya

Barongan Blora. Kesenian Barong atau lebih dikenal dengan Kesenian Barongan merupakan kesenian khas Jawa Tengah. Akan tetapi dari beberapa daerah yang ada di Jawa Tengah Kabupaten Blora lah yang secara kuantitas, keberadaannya lebih banyak bila dibandingkan dengan Kabupaten lainnya.

Seni Barong merupakan salah satu kesenian rakyat yang amat populer dikalangan masyarakat Blora, terutama masyarakat pedesaan. Didalam seni Barong tercermin sifat-sifat kerakyatan masyarakat Blora, seperti sifat : spontanitas, kekeluargaan, kesederhanaan, kasar, keras, kompak, dan keberanian yang dilandasi kebenaran.
Barongan dalam kesenian barongan adalah suatu pelengkapan yang dibuat menyerupai Singo Barong atau Singa besar sebagai penguasa hutan angker dan sangat buas.

Adapun tokoh Singobarong dalam cerita barongan disebut juga GEMBONG AMIJOYO yang berarti harimau besar yang berkuasa. Kesenian Barongan berbentuk tarian kelompok, yang menirukan keperkasaan gerak seekor Singa Raksasa. Peranan Singo Barong secara totalitas didalam penyajian merupakan tokoh yang sangat dominan, disamping ada beberapa tokoh yang tidak dapat dipisahkan yaitu : Bujangganong / Pujonggo Anom Joko Lodro / Gendruwo Pasukan berkuda / reog Noyontoko Untub.

Selain tokoh tersebut diatas pementasan kesenian barongan juga dilengkapi beberapa perlengkapan yang berfungsi sebagai instrumen musik antara lain : Kendang,Gedhuk, Bonang, Saron, Demung dan Kempul. Seiring dengan perkembangan jaman ada beberapa penambahan instrumen modern yaitu berupa Drum, Terompet, Kendang besar dan Keyboards. Adakalanya dalam beberapa pementasan sering dipadukan dengan kesenian campur sari.

Kesenian barongan bersumber dari hikayat Panji, yaitu suatu cerita yang diawali dari iring-iringan prajurit berkuda mengawal Raden Panji Asmarabangun / Pujonggo Anom dan Singo Barong.

Adapun secara singkat dapat diceritakan sebagai berikut :
Prabu Klana Sawandana dari Kabupaten Bantarangin jatuh cinta kepada Dewi Sekartaji putri dari Raja Kediri, maka diperintahlah Patih Bujangganong / Pujonggo Anom untuk meminangnya. Keberangkatannya disertai 144 prajurit berkuda yang dipimpin oleh empat orang perwira diantaranya : Kuda Larean, Kuda Panagar, Kuda Panyisih dan Kuda sangsangan. Sampai di hutan Wengkar rombongan Prajurit Bantarangin dihadang oleh Singo Barong sebagai penjelmaan dari Adipati Gembong Amijoyo yang ditugasi menjaga keamanan di perbatasan. Terjadilah perselisihan yang memuncak menjadi peperangan yang sengit. Semua Prajurit dari Bantarangin dapat ditaklukkan oleh Singo Barong, akan tetapi keempat perwiranya dapat lolos dan melapor kepada Sang Adipati Klana Sawandana. Pada saat itu juga ada dua orang Puno Kawan Raden Panji Asmara Bangun dari Jenggala bernama Lurah Noyontoko dan Untub juga mempunyai tujuan yang sama yaitu diutus R. Panji untuk melamar Dewi Sekar Taji. Namun setelah sampai dihutan Wengker, Noyontoko dan Untub mendapatkan rintangan dari Singo Barong yang melarang keduanya utuk melanjutkan perjalanan, namun keduanya saling ngotot sehingga terjadilah peperangan. Namun Noyontoko dan Untub merasa kewalahan sehingga mendatangkan saudara sepeguruannya yaitu Joko Lodro dari Kedung Srengenge. Akhirnya Singo Barong dapat ditaklukkan dan dibunuh. Akan tetapi Singo Barong memiliki kesaktian. Meskipun sudah mati asal disumbari ia dapat hidup kembali. Peristiwa ini kemudian dilaporkan ke R. Panji, kemudian berangkatlah R. Panji dengan rasa marah ingin menghadapi Singo Barong. Pada saat yang hampir bersamaan Adipati Klana Sawendono juga menerima laporan dari Bujangganong ( Pujang Anom ) yang dikalahkan oleh Singo Barong. Dengan rasa amarah Adipati Klana Sawendada mencabut pusaka andalannya, yaitu berupa Pecut Samandiman dan berangkat menuju hutan Wengker untuk membunuh Singo Barong. Setelah sampai di Hutan Wengker dan ketemu dengan Singo Barong, maka tak terhindarkan pertempuran yang sengit antara Adipati Klana Sawendana melawan Singo Barong. Dengan senjata andalannya Adipati Klana Sawendana dapat menaklukkan Singo Barong dengan senjata andalannya yang berupa Pecut Samandiman. Singo Barong kena Pecut Samandiman menjadi lumpuh tak berdaya.
Akan tetapi berkat kesaktian Adipati Klana Sawendana kekuatan Singo Barong dapat dipulihkan kembali, dengan syarat Singo Barong mau mengantarkan ke Kediri untuk melamar Dewi Sekartaji. Setelah sampai di alun-alun Kediri pasukan tersebut bertemu dengan rombongan Raden Panji yang juga bermaksud untuk meminang Dewi Sekartaji. Perselisihanpun tak terhindarkan, akhirnya terjadilah perang tanding antara Raden Panji dengan Adipati Klana Sawendano, yang akhirnya dimenangkan oleh Raden Panji. Adipati Klana Sawendana berhasil dibunuh sedangkan Singo Barong yang bermaksud membela Adipati Klana Sawendana dikutuk oleh Raden Panji dan tidak dapat berubah wujud lagi menjadi manusia ( Gembong Amijoyo ) lagi. Akhrnya Singo Barong Takhluk dan mengabdikan diri kepada Raden Panji, termasuk prajurit berkuda dan Bujangganong dari Kerajaan Bantarangin.
Kemudian rombongan yang dipimpin Raden Panji melanjutkan perjalanan guna melamar Dewi Sekartaji. Suasana arak-arakan yang dipimpin oleh Singo Barong dan Bujangganong inilah yang menjadi latar belakang keberadaan kesenian Barongan.

Seni Barongan di Kabupaten Blora berkembang pesat dan terus eksis di tengah kehidupan masyarakat. Bayangkan saja, dari 295 desa di Kabupaten Blora, terdapat 625 paguyuban kesenian barongan. Artinya, setiap desa minimal memiliki dua grup kesenian barongan.

Apalagi, beberapa budaya tradisi mensyaratkan keterlibatan kesenian barongan di dalamnya. Seperti tradisi sedekah bumi, tradisi bersih desa, tradisi lamporan dll. Tradisi lamporan merupakan ritual tolak bala yang berasal dari Desa/Kelurahan Kunden, misalnya, mengharuskan keterlibatan barongan. Bahkan, justru Singo Barong yang dianggap sebagai pengusir tolak bala.

Tak mengherankan bila kesenian barongan sangat populer dan sangat lekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan di Kabupaten Blora. Mereka beranggapan bahwa barongan telah berhasil mewakili sifat-sifat kerakyatan mereka, seperti spontanitas, kekeluargaan, kesederhanaan, tegas, kekompakan, dan keberanian yang didasarkan pada kebenaran.(dok.infoBlora)

Jumat, 10 Mei 2013

Sedekah Bumi "Gas Deso" Sebuah Tradisi Yang Masih Lestari di Kabupaten Blora

 
BLORA. Kabupaten Blora adalah sebuah kabupaten di Propinsi Jawa Tengah. Kabupaten Blora berbatasan dengan Kabupaten Rembang dan Kabupaten Pati di utara, Kabupaten Tuban dan Kabupaten Bojonegoro (Jawa Timur) di sebelah timur, Kabupaten Ngawi (Jawa Timur) di selatan, serta Kabupaten Grobogan di barat. Separuh dari wilayah Kabupaten Blora merupakan kawasan hutan. Daratan rendah di bagian tengah umumnya merupakan area persawahan. Sehingga pertanian merupakan sektor utama perekonomian di Kabupaten Blora.

Masyarakat Jawa memang terkenal dengan beragam jenis tradisi atau budaya yang ada di dalamnya. Begitu pula dengan Kabupaten Blora. Di Kabupaten Blora ada tradisi sedekah bumi yang biasa di sebut “Gas Deso” oleh masyarakat Blora merupakan suatu tradisi tahunan yang dilaksanakan setelah panen. Jadi antara desa yang satu dengan lainnya tidak sama pelaksanaan sedekah buminya. Tergantung pada kapan desa tersebut mengalami panen. Sedekah bumi atau gas deso adalah wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat dan berkah yang telah diberikan-Nya.

Sedekah bumi atau gas deso biasanya disambut suka cita oleh masyarat. Mereka merayakannya dengan membuat nasi tumpeng dan jajanan khas daerah seperti dumbeg, pasung, tape, bugis dan lain sebagainya. Lalu nasi tumpeng dan jajanan khas tersebut dibawa ke balai desa, sumur (sendang) yang telah disepakati oleh seluruh masyarakat setempat untuk menggelar acara tersebut untuk didoakan pemuka agama. Usai dioakan nasi tumpeng dan jajanan dimakan secara ramai-ramai oleh masyarakat yang merayakan acara sedekah bumi itu.

Mungkin tradisi sedekah bumi inilah yang terkadang dinantikan oleh anak-anak. Terutama anak-anak remaja seperti anak-anak SMP, SMA. Sering kali anak-anak SMP dan SMA membolos sekolah hanya karena ingin menghadiri acara tradisi sedekah bumi tersebut, padahal di acara sedekah bumi atau gas deso ini hanya ada makanan dan jajanan pasar yang sudah tidak asing bagi mereka dan hampir tiap hari mereka temui. Mungkin bagi mereka tradisi sedekah bumi yang hanya satu tahun sekali ini suatu hal yang sangat menyenangkan dan mengasyikkan karena dengan acara ini mereka dapat berkumpul dengan teman-teman yang lain dan terkadang menemukan teman baru.

Puncaknya acara sedekah bumi diakhiri dengan pertunjukan kesenian daerah entah itu barongan, wayang kulit, kethoprak atau tayub yang merupakan ciri khas kesenian Blora yang kemudian dilanjutkan pembacaan doa oleh masyarakat dipimpin oleh pemuka agama. Acara tersebut biasanya penyelenggaraannya di balai desa atau sendang. Pertunjukan acara tersebut dilaksanakan 2 kali dalam sehari yaitu siang hari dan malam hari. (rs-dok.infoBlora)

Selasa, 07 Mei 2013

Tingkatkan Kebersihan Lingkungan, Koramil 04/Tunjungan Bersihkan Poros Jalan Ds.Sambongrejo Kec.Tunjungan

                                          Pembersihan Poros Jalan Ds. Sambongrejo Kec. Tunjungan
TUNJUNGAN. Dalam rangka mendukung program Pemerintah Daerah Kab. Blora dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat di bidang kebersihan dan penataan lingkungan, melalui program Karya Bhakti Koramil 04/Tunjungan Kodim 0721/Blora ikut ambil bagian melaksanakan kegiatan pembersihan di poros kiri kanan jalan Ds. Sambongrejo Kec Tunjungan.
Kegiatan ini diikuti Muspika Kec. Tunjungan diantaranya Camat Tunjungan PLT Hariadi, S.Pd beserta anggota, Kapolsek Tunjungan AKP Zuwono, SE beserta anggota serta masyarakat setempat. Senin lalu.
Sebagai Komando Kewilayahan Koramil 04/Tunjungan akan selalu siap membantu meningkatkan kesejahteraan Masyarakat di wilayah Kec. Tunjungan di bidang kebersihan lingkungan guna menjaga timbulnya wabah penyakit Demam Berdarah serta menjaga lingkungan agar selalu indah, bersih dan nyaman.
Selain itu akan menumbuhkan kembali hidup gotong royong antara TNI khususnya Anggota Koramil 04/Tunjungan bersama masyarakat sekitarnya. Sehingga tercapai kemanunggalan TNI dengan Rakyat yang berkesinambungan. Demikian yang disampaikan Danramil 04/Tunjungan Kapten Inf Komari Saat di lokasi. ( Dim 0721/Blora ) - (infoBlora)

Selasa, 30 April 2013

Pernikahan Usia Dini "Nikah Muda" di Blora Masuk Kategori Tinggi

BLORA-Jumlah warga Kabupaten Blora yang menikah di usia dini relatif tinggi. Berdasar data di baguan Urais Kementrian Agama sejak bulan Januari hingga April tahun ini tercatat sebanyak 31 putra dan 54 putri.
Sedang angka pernikahan usia dini sepanjang tahun 2011 lalu 27 orang putra dan 61 orang putri.
“Anak yang menikah diusia dini tahun ini tergolong paling tinggi. Faktornya macam-macam,” jelas Kepala Kementrian Agama Tri Hidayat melalui Kasi Urais Masfuin di ruang kerjanya,.

Masfuin menjelaskan kategori usia dini dalam pernikahan ini merujuk pada Undang-Undang Perkawinan nomor 1 tahun 1974. Yang mana dalam peraturan tersebut untuk usia pernikahan usia dini bagi perempuan 16 tahun dan laki-laki 19 tahun.
“Meningginya angka pernikahan usia dini ini mungkin lantaran tradisi saja. Karena kalau orang Jawa itu tahun ini merupakan tahun yang baik untuk menikah. Namun begitu hal ini tidak bisa dibenarkan,” jelasnya.
Dia menambahkan terkait angka pernikahan usia normal sepanjang tahun 2012 lalu sebanyak 7083 pasangan. Angka tersebut berasal dari Kantor Urusan Agama (KUA) di 16 kecamatan se Kabupaten Blora.
”Untuk tahun ini angka pernikahan sudah mencapai 2615,” jelasnya.
Menurut dia, untuk angka telak cerai sepanjang tahun 2012 lalu sebanyak 841 kasus. Sedangkan yang talak 223 kasus.”Untuk talak tahun ini 154 orang.
Talak itu yang mengajukan perceraian pihak laki-laki dan cerai gugatan dari pihak perempuan,” jelasnya.(Endah/YD)-(infoBlora)

Daftar Pemenang Lomba Karya Tulis PATABA Khoul Pramoedya ke 7


BLORA - Harits Luqmanul Hakim, siswa SMP Unggulan Al-Hakim Bandung, dengan karyanya ”Ayahku Seorang Jenderal Besar” keluar sebagai juara I lomba penulisan fiksi kategori pelajar SMP dan SMA tingkat nasional yang diselenggaraan Perpustakaan Pataba Blora.

Ia berhasil menyisihkan ratusan karya pelajar dari berbagai daerah. ”Sejak dibuka pada 6 Februari dan ditutup 20 April, panitia menerima 415 karya para pelajar dari berbagai kota di Indonesia,” kata Soesilo Toer, pengelola Perpustakaan Pataba.

Sementara itu, juara II diraih Mutoharoh (MA Subhanah Subah, Batang) dengan tulisan bertitel ”Ibu”, disusul Dharma Kurnia Septaloka (SMA 13 Jakarta) sebagai juara III dengan karya ”Izinkan Aku Mencintaimu”.

Wika G Wulandari (SMA Averos Sorong) menjadi juara harapan I dengan karya berjudul ”Lembayung Kebebasan” dan juara harapan II K Sudono (SMP 25 Surakarta) dengan karya ”Keunikan Bunga Matahariku”. Informasi selengkapnya bisa menghubungi Hermawan Widodo (081914020214).
(H61-37) (Suara Merdeka/infoBlora)

Kenang 7 Tahun Meninggalnya Sastrawan Besar Tokoh Pramoedya Ananta Toer dari Blora

Kenangan 7 Tahun Meninggalnya Pramoedya Ananta Toer (6 Pebruari 1925 - 30 April 2006)

Setiap tanggal 30 April, kita mengenang suatu peristiwa penting dalam dunia perbukuan di Indonesia khususnya, dan di Indonesia pada umumnya: meninggalnya Pramoedya Ananta Toer pada tanggal 30 April 2006. Ia adalah sastrawan yang berkali-kali dinominasikan mendapat penghargaan Nobel Sastra. Peristiwa ini menandakan ada upaya dari masyarakat untuk tidak melupakan sosok penulis yang selama hidupnya selalu dipinggirkan oleh kekuasaan.
Apa yang membuat masyarakat tidak bisa melupakan Pramoedya Ananta Toer? Karena ia adalah bukti hidup “saat kata menjadi senjata”. Pada tahun 1988, Pramoedya mengatakan, “Saya makin bingung dengan Indonesia ini. Takut dengan pengarang dan dipenjarakannya saya selama 14 tahun tanpa pengadilan. Padahal di belakang saya selain sepi sunyi tak ada deretan tentara, persenjataan canggih, atau pembunuh-pembunuh bayaran. Heran saya.”
Keheranan Pramoedya ini sebenarnya tidak cukup kuat argumennya karena jelas betul riwayat politik dan penulisan Pramoedya memang tidak bisa dikesampingkan begitu saja oleh rezim Orde Baru. Apalagi Pramoedya memegang ingatan sejarah akan rezim yang baru saja ditumbangkan oleh Orde Baru. Ia adalah citra manusia Indonesia yang mengalami penjajahan demi penjajahan, demokrasi demi demokrasi, gerakan demi gerakan. Tentara perlu “melumpuhkan” dirinya dan membuat ia “dilupakan”, tetapi Pramoedya Ananta Toer ternyata tidak bisa dilumpuhkan dan tidak bisa dilupakan. Meski tentara memenjarakannya selama 14 tahun dimana 10 tahun ia berada di pulau Buru, lalu karya-karyanya dibakar. Tetapi generasi muda tetap menganggap penting pikiran-pikiran yang ditinggalkan Pramoedya yang telah ia tuliskan di buku-bukunya dan tindakan-tindakannya.

Menulis untuk Hidup
Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, 6 Februari 1925, sebagai anak sulung pasangan Mastoer dan Oemi Saidah. Mastoer berasal dari kalangan keluarga yang dekat dengan agama Islam. Ibunya anak penghulu Rembang. Keduanya anak orang terdidik. Mastoer seorang guru sekaligus aktivitis politik di Partai Nasionalis Indonesia (PNI). Ayah Pramoedya memiliki cita-cita dalam dunia pendidikan yang sejalan dengan Taman Siswa dan terlibat dalam gerakan nasional dengan melawan tekanan dan tuntutan penjajah, juga sangat aktif di kebudayaan.
Ibunya, Oemi Saidah sendiri orang yang lembut dan lemah. Dia sering sakit-sakitan. Ketika ayahnya tak lagi bertanggung jawab terhadap keluarga, ibunyalah yang mengambil alih semua tanggung jawab. Pengalaman masa kecil itu yang menjadi bangunan kisah dalam kumpulan cerita di Tjerita dari Blora (1952).
Saat kehidupan kian susah, Pramoedya Ananta Toer menjadikan kegiatan menulis sebagai sumber nafkah. Adik-adiknya pun diikutsertakan dalam kegiatan ini, sehingga Pramoedya bisa menghidupi adik-adiknya pasca meninggal ibu yang dicintainya. Karyanya kaya akan kisah manusia yang dibendung oleh kekecewaan, sebagai korban, tak lain cerminan dari kisah hidupnya sendiri. Dalam cerita “Blora”, “Dia Jang Menyerah”, dan Bukan Pasar Malam Pramoedya Ananta Toer secara sadar menggambarkan kehidupan keluarganya di Blora.
Sebagaimana Pramoedya menulis sendiri:
“Cerita selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa atau dewa ataupun hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dipahami daripada sang manusia.. jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biarpun penglihatanmu setajam mata elang; pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka daripada dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.”
Dalam kisahnya, dengan mudah kita temukan Pramoedya sebagai manusia yang terlibat dalam banyak hal, seperti dalam perjuangan bawah tanah gerilyawan Pembela Tanah Air (Peta) melawan penjajah menjadi garis utama plot novel Perburuan (1950) dan penderitaan masyarakat Jawa digambarkan dalam cerita “Dia Jang Menjerah” dalam Tjerita dari Blora. Pengalaman Pram saat revolusi juga tersirat pada cerpen “Dendam”, “Blora”, dan “Jalan Kurantil No. 28” dalam kumpulan cerpen Subuh, Tjerita-Tjerita Pendek Revolusi (1950); “Lemari Antik”, “Kemana??”, dan “Kemelut” dalam kumpulan cerpen Pertjikan Revolusi (1950), begitu pula pada roman Keluarga Gerilja, Kisah keluarga manusia dalam tiga hari dan tiga malam (1950), roman pendek Bukan Pasar Malam (1951), serta roman Di Tepi Kali Bekasi (1951).
Ia menuliskan kisah hidupnya sendiri untuk dapat menghidupi adik-adiknya, menyelamatkan perahu kehidupannya dari keterpurukan ekonomi.

Menulis Untuk Korban
“Revolusi menghendaki segala-galanya – menghendaki korban yang dipilihnya sendiri. Demikian hebatnya revolusi. Kemanusiaanku korbankan meskipun sekarang jiwa dan raganya terpaksa dikorbankan. Namun, itulah paksaan yang dipaksanya pada dirinya sendiri untuk menjalani kekejaman dan pembunuhan agar orang yang ada di bumi yang dipijak ini tak perlu lagi melakukan seperti itu untuk meneruskan kehidupan mereka bahkan boleh terus menikmati kehidupan mereka dengan penuh rasa kemerdekaan.”
Pramoedya memiliki sebuah ideologi yang dipegang erat. Dalam karya-karyanya, ia selalu menulis tentang korban. Wajar, bila tokoh karyanya selalu adalah korban. Bukan korban penjajahan bangsa asing, tetapi korban bangsanya sendiri, korban sistem yang diskriminatif dan tak manusiawi. Keberpihakan Pramoedya terhadap rakyat jelata dan tertindas tetap terasa pada karyanya.
Pada akhirnya pemikiran Pramoedya menjadi sejalan dengan gaya Realisme Sosialis yang diusung oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA), organisasi kebudayaan yang berada di bawah naungan Partai Komunis Indonesia (PKI). Realisme sosialis mengakarkan kreativitas pada kenyataan dan Pramoedya mendasarkan kenyataan pada sejarah yang berpihak kepada rakyat kecil.
Karya fiksi Pramoedya yang menyuratkan ideologi itu sendiri sangat sedikit. Salah satunya cerpen “Paman Martil” yang dimuat dalam kumpulan cerpen Jang tak terpadamkan (1965) yang diterbitkan untuk menyambut ulang tahun ke-45 PKI. Dengan kualitas artistik yang jauh lebih baik ketimbang cerpen tersebut, Profesor AA Teeuw juga memasukkan roman Gadis Pantai (1987) sebagai karya sastra ideologi Pramoedya.

Sejarah Sebagai Bahan Menulis
Tampak Pramoedya mengamini betul apa yang ditulis Maxim Gorki bahwa setiap orang harus tahu tentang sejarahnya. Itu sebabnya sebelum menulis karya-karyanya, Pramoedya akan menghabiskan cukup banyak waktu untuk melakukan riset sejarah. Catatan-catatan dari Pulau Buru (1995), Pramoedya menekankan bahwa turba bukanlah turun secara fisik, yaitu turun ke lapisan bawah masyarakat, melainkan turun ke sejarah, ke dasar. Profesor AA Teuw yang meneliti karya Pramoedya juga mengatakan karya-karyanya adalah hasil riset mendalam, berdasarkan bahan kepustakaan dasawarsa pertama abad ini.
Karyanya yang kental bahan-bahan sejarah adalah tetralogi Karya Buru, yang terdiri atas Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988). Dengan motif yang sama, kita juga dapat menyebut roman Pramoedya paling panjang, yakni Arus Balik (1995) termasuk dalam karyanya yang kental sejarah.
Napas ideologis realisme sosialis Pram juga terasa dalam karya-karya tersebut. Ideologi penulisannya yang demikian itu membuat Pramoedya disisihkan dari sejarah “resmi” kesusastraan modern Indonesia. Total 22 karyanya, baik fiksi dan non-fiksi dilarang oleh pemerintah. Dirinya pun dipenjarakan dan dibuang tanpa mengalami proses pengadilan.

Tak Melupakan Kemanusiaan Pramoedya
Sejak pembebasannya 14 tahun kemudian, Pramoedya menyadari dirinya adalah korban dari sistem yang korup, manipulatif dan destruktif. Di negerinya sendiri, Pram nyaris tak pernah dihargai, apalagi oleh pemerintah. Yang ada, ketika Pramoedya menjadi penerima Ramon Magsaysay Award pada 1995, cukup banyak penulis yang menolak dan bahkan Mohtar Lubis mengembalikan penghargaan yang pernah diterimanya tahun 1958.
 Tak heran apabila kemudian Pramoedya terbakar amarah sendirian. Ia merasa frustasi karena keadilan tak kunjung bisa ia rasakan. Sampai akhir hayatnya, ia masih menjadi korban. Rumahnya yang dirampas tentara tak kunjung dikembalikan, lalu ia tak bisa lagi menulis seluruh karyanya yang dibakar oleh Angkatan Darat, seperti Panggil Aku Kartini 2 dan lebih parah lagi, 22 karya pemikirannya belum dicabut larangannya oleh Kejaksaan Agung.
Dalam penulisan sejarah kesusastraan Indonesia, generasi muda mencoba mengembalikan nama-nama mereka yang berada segaris ideologi dengan Pramoedya Ananta Toer untuk kembali diingat oleh masyarakat. Bukan karena keberpihakan, tetapi karena ingin mengembalikan haknya untuk diingat sebagai bagian dari manusia Indonesia. Generasi ini seolah setuju dengan The New York Times yang pada 1 Mei 2006 menobatkannya sebagai sastrawan yang paling banyak berkorban untuk mendidik bangsanya.
Masih banyak yang harus diupayakan agar Pramoedya kembali menjadi manusia, bukan lagi hantu, momok yang perlu ditakuti. Mengenang kematiannya sebagai peristiwa penting adalah satu jalan untuk mengarah pada upaya-upaya lain untuk mengembalikan hak-haknya sebagai manusia Indonesia.
(Damar Juniarto-Alineatv)-(InfoBlora)

Senin, 29 April 2013

Ki Purbo Carito (Filly Andika) kader IPM dari Blora Ndalang di Kudus

KUDUS,- Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kabupaten Kudus menggelar pementasan wayang oleh dalang Ki Purbo Carito (Filly Andika) kader IPM dari Blora, yang masih duduk dibangku SMA dengan lakon 'Wisanggeni', Minggu (28/4). Ketua Organisasi PW IPM Jawa Tengah, Sonny Kurniawan mengatakan lakon tersebut merupakan perumpaan bagi kader IPM yang akan muncul sebagai pemimpin dengan membawa karakter cerdas bernas, dan mental yang berkelas. “Pelajar adalah pewaris sekaligus penerus estafet perjuagan bangsa, tentu bukan sekadar retorika namun suatu keharusan bahkan sunnatullah. Pelajar Muhammadiyah selain sebagai kader bangsa juga memangku sebagai kader umat dan ikatan dengan spirit gerak yaitu pelopor, pelangsung dan penyempurna amanah,” kata Sonny. Selain pementasan wayang, panitia juga menggelar seminar bertema 'Pelajar Karakter sebagai Tiang Negara'. Hadir dalam kegiatan tersebut pembicara dari berbagai organisasi pelajar di Jawa Tengah antara lain, Muhammad Ulum (PW IPNU Jateng), Nur Syam Cholil (PW PII Jateng), Teguh Anshori (PW IPM Jateng), serta dari kalangan akademisi Asep Purwo YU M Pd (Dosen Unnes). Diskusi tersebut banyak mengkritisi kebijakan pemerintah seperti sistem pendidikan di Indonesia yang belum humanizing human dan masih tumpang tindih dari segala lini kebijakan. "Selain itu kajian pelakasanaan UN juga menjadi pembicaraan panas, sehingga pelajar Muhammadiyah Kabupaten Kudus serentak mendukung UN untuk dihapuskan," Imbuh Sonny. ( Irsyam Faiz / CN37 / JBSM ) - (Suara Merdeka)

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII Sunan Pojok Teliti Masyarakat Samin di Klopoduwur Blora



Blora,Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII Sunan Pojok mengunjungi pemukiman suku Samin Blora di dusun Karangpace-Klopoduwur Kecamatan Banjarejo, Blora. Koordinator kegiatan, Abdul Malik menuturkan keinginan untuk meneliti masyarakat Samin sebenarnya sudah lama namun tuntutan akademis mengharuskan mahasiswa untuk menyelesaikan tugasnya yaitu mengikuti agenda perkuliahan.

Kegiatan yang dirangkai dalam RTL (Rencana Tindak Lanjut) PMII ini menitikberatkan pada akar sejarah masyarakat Samin yang merupakan salah satu icon Blora, selain batik Blora dan sate Blora. Rumor tentang keterbelakangan masyarakat Samin menginspirasi mahasiswa PMII Sunan Pojok Blora untuk meneliti secara langsung keadaan masyarakat Samin yang sebenarnya.

Dalam penelitian tersebut, PMII Sunan Pojok didampingi langsung oleh sesepuh desa Klopoduwur, Mbah Lasiyo.

Beberapa kesimpulan hasil dari penelitian tersebut antara lain, masyarakat Samin telah mengalami perkembangan pada sisi sosial dan kegiatan perekonomian. Adat istiadat Samin yang berupa ritual tetap dilaksanakan dengan konsisten pada waktu-waktu tertentu.

“Kami (masyarakat Samin) berpuasa ngrowot (hanya memakan umbi-umbian) setiap bulan Suro,” terang Mbah Lasiyo dihadapan para mahasiswa.

Masyarakat sekitar desa Klopoduwur menyambut baik kegiatan penelitian tersebut. Masyarakat berharap agar hasil penelitian tersebut dipublikasikan supaya stigma miring pada masyarakat Samin dapat tertepis.

“Kami berharap, selain untuk menggali lebih dalam tentang kondisi masyarakat Samin yang sebenarnya, juga sebagai ajang silaturahim kepada masyarakt samin secara lebih dalam,” jelas ketua PMII Sunan Pojok M Ircham Sahidin mengakhiri sambutannya.

Redaktur: Mukafi Niam - NU online
Diberdayakan oleh Blogger.

 

© 2013 INFOBLA. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top